Tahun Ini Embung Wajib Ada di Tiap Desa, Biaya Pembuatan Rp 33 Jutaan

Masalah masih kerap menjadi momok bagi para petani yang ada di Indonesia. Persediaan air yang terbatas juga menjadi salah satu penyebab mengapa sebagian besar masyarakat mengalami pada saat musim kemarau.

Menteri , Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo mengungkapkan, “Mulai tahun depan, setiap desa di Indonesia diwajibkan memiliki embung .”

Sebagai informasi, embung merupakan penampung air hujan pada saat musim hujan dan air yang ditampung di dalamnya dapat digunakan sebagai saat musim kemarau. Menurut Eko, anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan embung di desa sekitar Rp 300 juta hingga Rp 500 juta. Dengan adanya embung diharapkan bisa memberi banyak untuk kemajuan desa.

“Idenya adalah kalau ada embung, kita bisa air hujan saat musim hujan untuk ditampung sementara. Air hujan, kan, tidak semuanya tertampung untuk sawah. Nanti pada saat tertentu air di embung itu bisa dimanfaatkan. Contohnya, saat menggarap sawah ini. Saat membajak sawah, mengolah tanah, kan, perlu air akibat kekeringan. Air di embung bisa dialirkan ke sawah. Nah, nanti diisi lagi untuk keperluan bethatan,” ujar Muhyidin, salah satu petugas embung di Wonolelo.

Di Wonolelo nantinya akan dibangun 11 embung yang memanfaatkan dana hibah hasil kerjasama Bapenas dan Java Reconstruction Fund (JRF) yang dikoordinasi Bank Dunia. Satu buang embung memiliki ukuran panjang 4 meter, lebar 3 meter, dan kedalaman 3 meter, serta berkapasitas 36 meter kubik. pembuatan satu embung totalnya mencapai Rp 33 juta, terdiri dari Rp 25 juta untuk bangunan embung dan Rp 8 juta digunakan untuk membuat pagar di sekeliling embung.

“Tidak ada biaya untuk penggantian lahan, tetapi dibuat surat perjanjian dengan pemilik lahan untuk menghindari persoalan pada masa mendatang,” tandas Muhyidin.

Loading...