Tahun Depan, Pertumbuhan Ekonomi Negara-Negara Berkembang Bakal Melambat

Masa peningkatan ekonomi di negara-negara berkembang selama beberapa tahun terakhir tampaknya akan segera berakhir. Bahkan, pada tahun 2016, ekonomi global diprediksi akan beralih ke negara-negara maju.

CEO Oxford Economics, Adrian Cooper, dalam ulasannya di sebuah media luar negeri menyatakan, yang rendah telah menarik modal besar ke negara-negara maju. “Kita mungkin akan akan melihat di negara berkembang akan mengalami ketidakstabilan,” ujar Cooper.

Ia menambahkan, kebijakan The Fed untuk menaikkan suku bunga secara bertahap akan mengurangi kemungkinan ketidakstabilan pasar di negara-negara maju. “Penguatan dolar AS juga telah meningkatkan daya saing perusahaan Eropa dan ,” sambungnya.

Cooper mencontohkan, ekspor dari Jerman telah menemukan pasarnya di Amerika Serikat. Di sisi lain, produsen di Amerika Serikat telah menjadi begitu kompetitif selama terakhir.

Selain itu, harga dunia yang di kisaran 20 dolar AS per barel juga diprediksi akan terus terjadi hingga paruh pertama 2016. “Ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Eropa dan Jepang,” papar Cooper.

Sementara itu, penurunan di seiring melemahnya sektor perekonomian di negara itu, berkontribusi besar terhadap harga komoditas secara keseluruhan. “Ini bukan hanya , untuk beberapa kasus tertentu, kami juga mengkhawatirkan India,” tambahnya.

Meski begitu, Cina masih merupakan pasar yang menjanjikan. Sebuah studi yang dilakukan Oxford Economics mencatat, ekspor ke Cina yang semula 10% pada tahun 2000, naik sekitar 20% pada tahun 2014. Angka ini hampir setara dengan jumlah ekspor ke Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Loading...