Tahun 2017, Biaya Royalti Batubara Kemungkinan Masih Tetap 13,5 Persen

Jika dibandingkan lainnya, merupakan negara yang mengenakan royalti paling tinggi di dunia, yaitu sebesar 13,5 persen. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan royalti di sektor mineral atau tambang lainnya, seperti emas, perak, maupun nikel.

“Dari 76 negara yang memiliki batubara, rata-rata royaltinya hanya 3 hingga 7 persen. Sementara, Indonesia untuk PKP2B mencapai 13,5 persen atau yang paling tinggi,” ujar Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Supriana Suhala. “Namun, di Indonesia juga ada royalti batubara di bawah 13,5 persen, yaitu untuk batubara pemegang IUP dikenakan royalti 3 persen, 5 persen, hingga 7 persen, tergantung batubara.”

Besaran tarif atau royalti batubara itu sendiri terangkum dalam Keputusan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Nomor 579.K/32/DJB/2015 tentang untuk Penentuan Harga Dasar Batubara yang menyebutkan, iuran /royalti batubara adalah 13,5 persen dari harga batubara. Harga batubara untuk perhitungan royalti adalah sebesar total biaya ditambah margin 25 persen.

Tahun 2017 mendatang, Energi dan Sumber Daya Mineral juga berencana menaikkan tarif royalti komoditas tambang yang dikelola pemegang kontrak karya (KK). Namun, kenaikan tarif royalti tersebut hanya berlaku untuk komoditas emas yaitu menjadi 3,75 persen, tembaga yang naik menjadi 4 persen, perak yang menjadi 3,25 persen, dan nikel yang naik menjadi 2 persen. Sementara, biaya royalti batubara bagi pemegang PKP2B kemungkinan besar belum ada kenaikan.

Loading...