Survei: Indonesia, Arab, dan AS Ragu Aktivitas Manusia Sebabkan Perubahan Iklim

Perubahan Iklim - www.videoblocks.comPerubahan Iklim - www.videoblocks.com

LONDON – Sebagian besar ternyata meyakini bahwa perubahan tidak terkait dengan manusia, demikian menurut survei terbaru yang dilakukan oleh YouGov-Cambridge Globalism Project secara global di 23 . Tidak hanya itu, Arab Saudi dan Indonesia ternyata juga meragukan perubahan iklim akibat perbuatan manusia.

Dilansir dari The Guardian, sebanyak 13% orang AS yang disurvei setuju bahwa iklim dunia berubah, tetapi aktivitas manusia tidak bertanggung jawab terhadap perubahan tersebut. Hanya Arab Saudi (16%) dan Indonesia (18%) yang memiliki proporsi orang lebih tinggi, yang meragukan bahwa ada andil manusia dalam perubahan iklim global.

Namun, terlepas dari pandangan ini, sebagian besar warga Negeri Paman Sam menerima perubahan iklim, dengan hampir empat dari 10 orang mengatakan aktivitas manusia setidaknya sebagian bertanggung jawab. Sementara itu, sepertiga lainnya mengambil pandangan lebih tegas bahwa aktivitas manusia adalah terbesar untuk perubahan iklim.

Sebelumnya, para sudah sangat setuju bahwa manusia menyebabkan perubahan iklim melalui peningkatan emisi gas rumah kaca secara eksponensial selama bertahun-tahun. Emisi global masih meningkat, dan empat tahun terakhir menjadi terpanas sejak pencatatan dimulai. Oktober tahun lalu, Intergovernmental Panel on Climate Change memperingatkan konsekuensi mengerikan dari pemanasan global.

Sebagai akibatnya, serangkaian gerakan global kaum muda yang menyerukan aksi bermunculan, dipelopori oleh remaja Swedia bernama Greta Thunberg, yang kemudian memberi jalan bagi kelompok Extinction Rebellion di London. Sementara, di AS, protes jalanan kurang terlihat, tetapi lanskap politik di sekitar perubahan iklim telah diubah oleh Green New Deal.

Pada minggu ini laporan penilaian global PBB, yang disusun lebih dari tiga tahun oleh lebih dari 450 ilmuwan dan diplomat, memperingatkan bahwa satu juta spesies berisiko, yang sebagian besar sebagai akibat dari tindakan manusia yang mempercepat penurunan sistem pendukung kehidupan alami Bumi di tingkat yang mengkhawatirkan.

“Tetapi, penolakan yang lebih luas terhadap situasi ini berkaitan dengan kampanye salah informasi oleh kepentingan bahan bakar fosil dan aspek karakter AS,” kata Margaret Klein Salamon, seorang psikolog klinis yang mendirikan kelompok advokasi Climate Mobilization. “Industri bahan bakar fosil telah membohongi miliaran AS kepada publik, bahkan mengirim lektur kepada guru sains di .”

Orang AS juga nampak rentan terhadap teori konspirasi terkait iklim, menurut data YouGov. Sebanyak 17% dari mereka yang disurvei sepakat bahwa ‘gagasan pemanasan global buatan manusia adalah tipuan yang diciptakan untuk menipu orang-orang’. Kepercayaan pada teori konspirasi ini, yang sebelumnya diajukan oleh Presiden Donald Trump, mengklaim bahwa perubahan iklim dibuat oleh China, meningkat seiring bertambahnya usia dan juga ideologi politik konservatif.

“Meskipun ketidaksepakatan masih tetap ada, terutama di antara orang-orang dengan pandangan politik yang digambarkan sangat kanan, tampaknya ada mandat dalam data ini untuk mengambil pendekatan yang lebih berani guna menangani pemanasan global,” kata Wendel Trio, direktur Climate Action Network Europe. “Warga mengharapkan pemerintah untuk bertindak dan mengurangi dampak negatif pada iklim. Pemerintah memiliki kewajiban meningkatkan pengurangan emisi dan melindungi warganya dari bencana iklim.”

Loading...