Suplai Minim, Harga Ayam Potong di Jawa Timur Hari Ini Masih Mahal

Ayam Potong - pusatdagingayam.blogspot.comAyam Potong - pusatdagingayam.blogspot.com

Sejak beberapa waktu lalu Indonesia banyak yang mengeluhkan ayam potong dan telur yang melonjak drastis dari normal. Padahal termasuk pangan yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat di Tanah Air. Harga ayam potong hari ini di Pasar Baru Gresik, Jawa Timur misalnya, dikabarkan naik hingga mencapai Rp 40.000 per kg. Para mengaku menjual ayam broiler atau ayam pedaging dengan harga mahal lantaran dari agen pun didapat dengan harga yang sangat mahal.

“Beli ayamnya sudah mahal. Kalau tidak dinaikkan harga daging ayamnya, kami rugi,” ujar Suminah, salah satu pedagang daging ayam, Jumat (27/7/2018), seperti dilansir Tribunnews. Tak hanya yang mahal untuk membeli ayam, tetapi ketersediaan ayam di setiap kandang kabarnya juga langka sehingga membuat harga ayam potong pun makin mahal. “Baru kali ini merasakan kenaikan daging ayam yang sangat mahal dan barangnya sulit. Dulu, ayam naik Rp 32.000 per kilogram, tapi mendapatkannya gampang. Tidak sulit seperti tahun ini,” sambung Suminah.

Tak jauh berbeda, harga ayam potong di Kota Malang, Jatim juga masih berada pada kisaran Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilo. Padahal sebelumnya ayam potong hanya dipatok di harga Rp 19 ribu sampai Rp 20 ribu saja per 1 kg. Di Pasar Besar Malang, harga ayam potong pada Sabtu (21/7) lalu ayam potong diperdagangkan sekitar Rp 50 ribu per kg.

“Setelah Lebaran hingga kini harga ayam potong terus naik,” ujar Ida, salah seorang pedagang di Pasar Besar Malang (PBM), seperti dilansir Radar Malang. Ida menjelaskan bahwa harga ayam potong saat ini mahal karena suplai dari peternak tidak terlalu banyak. “Harga ayam hidup juga naik. Saat ini harganya mencapai Rp 25.600 per ekor,” tutur Ida.

Fenomena kenaikan harga ayam potong ini rupanya tidak hanya dialami oleh wilayah Jawa Timur saja, para pedagang di Jawa Tengah pun banyak yang tak berjualan lantaran komoditas ayam potong harganya sudah semakin tinggi. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkot Magelang Sri Retno Murtiningsih, harga ayam potong hampir di semua daerah memang naik sejak bulan Ramadan dengan puncaknya menjelang Lebaran beberapa waktu mencapai harga tertinggi Rp 40 ribu per kg. Usai Hari Raya Idul Fitri sebenarnya harga ayam potong sempat turun bertahap antara Rp 34 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram.

Namun sejak pertengahan Juli 2018 kenaikan harga daging ayam terjadi lagi, termasuk di sejumlah pasar di Kota Magelang yang menyebabkan para pedagang enggan menjual daging ayam potong. “Harga belinya dari peternak makin tinggi, harganya sudah sampai Rp 25 ribu per kilogram ayam hidup, sehingga sekarang kami kesulitan untuk menjualnya kepada konsumen,” ungkap Maesaroh, pedagang daging ayam di Pasar Kebonpolo, Kota Magelang.

Ayam Potong - karya-pangan.com

Ayam Potong – karya-pangan.com

Hal serupa pun terjadi di Kota Malang. Walaupun Lebaran telah berlalu, kenaikan harga ayam terus berlangsung sejak bulan Ramadan sampai saat ini. “Sebelum Ramadan, harga daging ayam potong mencapai Rp 25 ribu hingga Rp 26 ribu. Memasuki bulan Ramadhan naik secara perlahan hingga menyentuh angka Rp 30 ribu-Rp 32 ribu per kilogram dan Lebaran seharga Rp 40 ribu hingga Rp 43 ribu per kilogram, sekarang harganya masih tetap tinggi,” ujar Bambang, pedagang ayam di Pasar Tunggulwulung Kota Malang.

Bahkan kabarnya harga ayam kampung juga turut naik. “Hampir tiap hari ada kenaikan harga antara Rp 1.000-Rp 1.500 per ekor. Sekarang harga ayam kampung rata-rata Rp 80 ribu sampai Rp 90 ribu per ekor (ukuran sedang),” kata Bambang.

Namun berdasarkan data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) harga daging ayam segar di Jawa Timur hari ini, Sabtu (28/7) berkisar di angka Rp 38.950 turun Rp 1.450 dari perdagangan sebelumnya yang mencapai Rp 40.400 per kg. Menurut Direktur Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHP), Direktorat Jenderal Peternakan dan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) Fini Murfiani, kenaikan harga tersebut bukan karena jumlah pasokan yang menurun, melainkan karena daging ayam yang meningkat cukup tajam belakangan ini.

Lebih lanjut Fini memaparkan, dengan rata-rata daging ayam ras sekitar 11,5 kg per orang per tahun dan jumlah penduduk Indonesia sekitar 265 juta orang, maka kebutuhan daging ayam ras selama tahun 2018 ini tergolong aman. Terutama dengan memperhitungkan kenaikan permintaan pada hari raya dan tahun baru, kebutuhan daging ayam ras mencapai 3,05 juta ton per tahun.

Di sisi lain, jumlah produksi daging ayam ras selama 2018 diprediksi mencapai 3,56 juta ton per tahun. Jumlah tersebut menurutnya menggambarkan adanya surplus produksi sebesar 500 ribu ton. Kemudian PIHPS juga melaporkan, selama periode Januari-Juni 2018 realisasi produksi daging ayam ras mencapai 1,80 juta ton, sedangkan kebutuhan yang dipenuhi hanya 1,54 juta ton. Menurut data tersebut sebenarnya dalam 6 bulan ini Indonesia mengalami surplus daging ayam ras sekitar 260 ribu ton. “Sehingga kurang tepat kalau kita bilang ada kekurangan daging ayam,” jelasnya.

Fini sekaligus menambahkan, jika dari hasil pemantauan petugas Kementan di sejumlah pasar memang sempat terjadi kenaikan harga daging ayam. Akan tetapi pasokannya dinilai masih cukup dan harga daging ayam disebut-sebut berangsur kembali normal. “Kami juga tidak temui adanya pedagang daging ayam yang mogok jualan karena kurang pasokan daging ayam,” pungkas Fini.

Loading...