Kamis Sore, Rupiah Malah Anjlok 4,53% Usai BI Pangkas Suku Bunga

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

JAKARTA – Rupiah tetap gagal merangsek ke area hijau pada perdagangan Kamis (19/3) sore, bahkan semakin tenggelam, meskipun Bank Indonesia baru saja memutuskan untuk memotong acuan. Menurut laporan Index pada pukul 15.41 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 690 poin atau 4,53% ke level Rp15.913 per AS.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini akhirnya memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,5%. Bank Indonesia kembali memperkuat bauran kebijakan yang diarahkan untuk dukung upaya mitigasi demi menjaga , terutama di tengah wabah corona.

Sayangnya, kebijakan pemotongan suku bunga ini gagal menyelamatkan mata uang dari area merah. Bahkan, kurs tengah Bank Indonesia juga harus terdepresiasi sangat tajam, 489 poin atau 3,21% ke level Rp15.712 per . Di saat yang bersamaan, seluruh mata uang bergerak lebih rendah, dengan pelemahan terdalam sebesar 3% menghampiri won Korea Selatan.

“Kurs di -negara dengan risiko penularan Covid-19 meningkat seperti rupiah, dan proksi aset risiko sentimen global seperti won, mungkin masih melihat pergerakan fluktuatif untuk sementara waktu,” papar analis valas di Malayan Banking Bhd., Yanxi Tan, dikutip Bisnis. “Tekanan keuangan tidak mungkin menghilang sampai kita melihat puncak dari pandemi, kemudian berlanjut ke penurunan tingkat penularan.”

Dari pasar global, indeks dolar AS melonjak, obligasi jatuh, dan pasar global berjuang untuk menemukan pijakan mereka karena janji stimulus terbaru Bank Sentral Eropa (ECB) hanya memberikan penghiburan singkat di tengah perjuangan menahan pandemi coronavirus. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,094 poin atau 0,09% menuju level 101,254 pada pukul 15.47 WIB.

Pada Rabu (18/3) waktu setempat, dilansir Reuters, ECB berjanji untuk membeli 750 miliar euro dalam bentuk obligasi pada tahun ini, dengan utang Yunani dan surat berharga komersial non-keuangan memenuhi syarat di bawah program untuk pertama kalinya. Namun, sejauh ini tidak ada yang mampu menempatkan sentimen positif, dengan sekitar 15 triliun dolar AS nilai pemegang saham hilang dalam penjualan lebih dari sebulan.

Loading...