BI Pangkas Suku Bunga, Rupiah Berakhir Negatif

Rupiah - ekonomi.metrotvnews.comRupiah - ekonomi.metrotvnews.com

JAKARTA – harus rela terbenam di area merah pada perdagangan Kamis (19/11) sore ketika Rapat Dewan Gubernur (RDG BI) hari ini memutuskan untuk memangkas acuan ke level 3,75%. Menurut catatan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 85 poin atau 0,60% ke Rp14.155 per AS.

Sementara itu, yang dirilis Bank Indonesia jam 10.00 WIB tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.167 per dolar AS, terdepresiasi 49 poin atau 0,34% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.118 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga harus takluk terhadap , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,67% dialami won Korea Selatan.

RDG BI yang berakhir hari ini membuat terkejut ekonom dan pasar domestik saat memutuskan untuk memotong suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin dari 4% menjadi 3,75%. Begitu pula dengan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility yang masing-masing turun 25 basis poin menjadi 3% dan 4,5%.

“Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang terus membaik. Pertumbuhan ekonomi kuartal III di sejumlah mulai membaik,” terang Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dilansir CNN Indonesia. “Keputusan ini juga mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional yang ikut membaik, tercermin dari kontraksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III yang tidak setinggi kuartal II.” 

Dari pasar global, dolar AS mencoba bangkit pada hari Kamis setelah lima sesi mengalami penurunan ketika optimisme jangka panjang tentang vaksin COVID-19 berubah menjadi kekhawatiran tentang meningkatnya infeksi dan risiko terhadap pemulihan ekonomi global yang rapuh. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,144 poin atau 0,16% ke level 92,460 pada pukul 13.39 WIB.

Dilansir dari Reuters, melonjaknya kasus di AS memberikan kekuatan yang berlawanan pada greenback, dengan tawaran keamanan yang mendukung mata uang tersebut, sedangkan spekulasi baru tentang pelonggaran moneter untuk meningkatkan ekonomi telah merusaknya. Kekhawatiran juga telah mendorong yen sekitar 0,8% lebih tinggi minggu ini, memulihkan sekitar tiga perempat dari kerugian tajam yang dideritanya minggu lalu, ketika Pfizer mengumumkan vaksin COVID-19.

Loading...