Suasana Panas Jelang Pemilu AS Mulai Pengaruhi Pasar, Rupiah Terjun 97 Poin

Jakarta menutup perdagangan Senin dengan catatan merah. Dikutip dari Bloomberg, Garuda terdepresiasi 97 poin atau 0,73% pada level Rp 13.343/ USD pada penutupan perdagangan sore ini (28/3).

Melemahnya Rupiah sudah terasa sejak awal perdagangan. Ketika perdagangan sesi pertama dibuka, Rupiah sudah terpeleset 4 poin (0,03%) ke Rp 13.250 per AS. Rupiah bahkan terseret hingga 71 poin (0,54%) pada jeda siang, membawanya pada level Rp 13.317/USD.

Terjunnya Rupiah kali ini tak jauh berbeda dengan yang dialami oleh Baht dan Peso . Tercatat pada pukul 13.51 WIB, kedua mata uang tersebut melemah masing-masing -0,31% dan -0,23%. Sementara itu, Dolar Singapura dan berhasil membukukan penguatan, yakni sebesar +0,08% dan +0,39%.

Kembali anjloknya harga disebut-sebut sebagai biang kerok melemahnya Rupiah. Para analis juga mengaitkan kondisi uang dengan Pemilu Presiden Amerika Serikat ke-58 yang akan diselenggarakan pada 8 November 2016 mendatang.

“Rupiah (nampaknya) masih ragu-ragu.  Menjelang pemilu (AS). Keamanan, ekonomi, politik (itu) selaras,” ujar Octavianus  Marbun, Analis dari PT Waterfront  Securities Indonesia, ketika dihubungi awak media (28/3).

Rangga Cipta, Ekonom Samuel sekuritas Indonesia, juga telah memprediksi laju Rupiah yang tertekan akibat supremasi Dolar AS di pasar global.

“Ruang pelemahan Rupiah masih tersedia melihat sentimen penguatan Dolar di pasar global,” kata Rangga dalam risetnya.

Dikatakan Rangga, angka Inflasi pada Maret 2016 yang diperkirakan ikut memberi sentimen negatif terhadap gerak Rupiah dalam jangka pendek.

Loading...