Stok Melimpah, Berapa Harga Gabah Ketan Hari Ini?

Harga, gabah, ketan, padi, saat ini, hari ini, musim, panen, raya, petani, anjlok, kisaran, kenaikan, penurunan, kuintal, area, tanam, modal, rugi, kondisi, wilayah, kecamatan, konsumsi, Indramayu, ditanam, permintaan, pasar, jenis, produksi, Ciherang, penyebab, informasi,Sejumput beras ketan (sumber: resepkoki.id)

Sejak awal tahun 2018 hingga hari ini, masih banyak petani yang mengeluhkan yang sering anjlok. Sekretaris Komisi II DPRD Kalimantan Barat Guntur mengatakan, harga di tingkat petani di Kabupaten Sambas turun tajam. Hal ini diketahuinya usai bertatap muka dengan kelompok tani di Kabupaten Sambas.

”Namun, tetap saja tak ada yang mau beli. Petani terancam kehilangan pendapatan,” kata Guntur sebagaimana dilansir Pontianak Post.

Guntur mengatakan, pada 2016, harga gabah di Sambas sempat menyentuh level Rp 5 ribu per kilogram. Namun, saat ini, harga gabah menurun tajam menjadi hanya Rp 3 ribu per kilogram. “Turunnya harga gabah ini sangat memukul para petani,” kata Guntur. Guntur tidak mengetahui pasti penyebab turunnya harga gabah tersebut. Namun, berdasarkan informasi, hal itu karena para tengkulak kini tengah menahan diri untuk membeli gabah petani.

Sementara itu, harga gabah di wilayah Kabupaten Indramayu bagian barat (Inbar) jatuh ke titik terendah. Bahkan lebih rendah daripada harga gabah padi jenis Ciherang maupun Inpari yang umumnya ditanam pada musim panen raya tahun ini. Produksi melimpah sementara permintaan stagnan menjadi biang keladinya.

Salah seorang petani di Kecamatan Bongas, Kodar menyebutkan harga gabah ketan saat ini di kisaran Rp4.000 per kg. Padahal pada musim panen yang lalu, harganya mencapai dua kali lipatnya. “Harga gabah ketan sekarang di bawah harga gabah padi. Kami gagal untung,” keluh dia kepada Radar Cirebon.

Petani tertarik menanam padi ketan karena tergiur harga tinggi pada musim panen sebelumnya yang mencapai Rp8.000/kg, di atas gabah padi di kisaran Rp5.500/kg. “Harga segitu waktu petani yang tanam ketan masih sedikit, tiap musimnya yang tanam terus bertambah. Puncaknya tanam musim rendeng tahun ini lebih banyak lagi yang tanam ketan. Mungkin karena sebelumnya harga gabah ketan yang tinggi,” ujarnya.

Selain harga, dalam setiap hektare hasil panen gabah ketan juga lebih banyak 2-3 ton dari padi. Sedangkan dari sisi biaya operasional hampir sama dengan menanam padi.

Saat ini, sambung dia, meskipun harganya merosot tajam petani kebingungan untuk menjual gabah ketannya lantaran menyusutnya permintaan. Jika pun harus disimpan, mereka kehabisan modal untuk kembali menanam padi menyambut musim tanam rendeng. “ ketan kan jarang, beda dengan yang pasti habis seberapapun harganya. Kalau gak habis dimakan sendiri ya buat kondangan,” katanya.

Kondisi serupa juga dialami para petani di wilayah Kecamatan Gabus Wetan. Petani di sana, Yono merinci, jika dihitung dengan harga Rp400 ribu per kuintal, maka diperkirakan hanya dapat kembali modal saja. “Kembali modal saja sudah untung. Kemungkinan malah merugi, modal tak bisa kembali,” keluhnya.

Dia membenarkan salah satu penyebab anjloknya harga gabah ketan karena saat ini areal tanamnya bertambah luas. Kondisi itu membuat hasil panen menjadi melimpah, apalagi waktu panen kedua ketan tahun ini hampir bersamaan. Sedangkan daya serap pasar masih terbatas, sehingga harga otomatis jadi turun drastis. “Idealnya harga ketan per kuintal itu ya minimal Rp600 ribu. Tapi pas panen sekarang malah sebaliknya, anjlok jadinya banyak petani gagal untung,” tutup Yono.

Loading...