Jalur Cepat Stimulus AS, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - Kabarin.coRupiah - Kabarin.co

JAKARTA – mampu bertengger di area hijau pada perdagangan Rabu (3/2) sore, ketika optimisme mengenai paket stimulus AS senilai 1,9 triliun AS membuat harus rela terbenam di teritori merah. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.005 per dolar AS.

Sementara itu, data yang dirilis pukul 10.00 WIB menempatkan acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.017 per dolar AS, menguat 27 poin atau 0,19% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.044 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia mampu mengungguli greenback, termasuk won Korea Selatan, dolar Taiwan, dan rupiah.

Menurut analisis CNBC Indonesia, pergerakan mata uang Garuda hari ini didukung sentimen dan luar. Dari dalam negeri, akan segera merampungkan Rancangan Peraturan (RPP) dan Peraturan yang menjadi aturan pelaksanaan UU Cipta Kerja. Sementara, dari eksternal, ada harapan Kongres AS bakal meloloskan paket stimulus fiskal senilai 1,9 triliun dolar AS.

Dari pasar global, indeks dolar AS harus bergerak lebih rendah pada hari Rabu, meskipun mampu bergerak lebih tinggi terhadap euro lantaran lockdown di Eropa menimbulkan kekhawatiran penurunan pertumbuhan zona tersebut pada kuartal pertama 2021. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,144 poin atau 0,16% ke level 91,053 pada pukul 11.17 WIB.

Optimisme investor terhadap stimulus fiskal AS meningkat lantaran Kongres AS sepertinya akan meloloskan paket stimulus senilai 1,9 triliun dolar AS yang diajukan pemerintahan Joe Biden. Maklum, Kongres (baik House of Representatives maupun Senat) kini dikuasai Partai Demokrat pendukung pemerintah. “Stimulus fiskal bisa segera bergulir dan pelaku pasar melihat prospek ekonomi bakal lebih cerah,” ujar partner di Cherry Lane Investments, Rick Meckler, dilansir dari Reuters.

Pergerakan Washington menuju pengeluaran stimulus yang lebih cepat kontras dengan kekhawatiran lockdown di Benua Eropa dan ekspektasi penurunan pertumbuhan ekonomi zona tersebut pada kuartal awal tahun ini. Namun, banyak analis mengharapkan korelasi untuk menegaskan kembali penurunan dolar AS karena pertumbuhan ekonomi global.

Loading...