Manfaatkan Deregulasi, Startup Pengiriman Uang Global Serbu Asia

TransferWise - www.ft.comTransferWise - www.ft.com

TOKYO – Perusahaan yang bergerak dalam layanan uang secara tampaknya berbondong-bondong menuju memanfaatkan deregulasi, yang menawarkan nilai tukar yang lebih rendah karena mereka tidak bergantung pada fisik dan sistem tradisional. Otomatis, layanan tersebut menjadi ancaman besar bagi -bank konvensional yang ada.

Dilansir Nikkei, TransferWise, perusahaan pengiriman uang online yang berbasis di Inggris, akan meluncurkan kartu debit di Singapura dalam beberapa bulan ke depan dan di Jepang pada tahun 2020 mendatang. Didirikan pada 2010, perusahaan ini bernilai 3,5 miliar dolar AS, menjadikannya salah satu unicorn paling berharga di Benua Eropa.

Layanan baru TransferWise akan memungkinkan pengguna untuk menambah akun TransferWise mereka dan membelanjakan lebih dari 40 mata uang dengan nilai tukar lebih rendah daripada penawaran bank konvensional. Layanan ini juga membuat pengguna dapat melakukan lebih banyak penghematan dibandingkan dengan kartu kredit tradisional.

“Pertanyaan selanjutnya dari pelanggan kami adalah, senang saya bisa menyimpan uang dengan Anda, tetapi sekarang saya ingin dapat membelanjakannya saat bepergian,” kata kepala ekspansi Asia-Pasifik di TransferWise, Venkatesh Saha. “TransferWise baru-baru ini dianugerahi lisensi di Malaysia dan sekarang aktif bekerja untuk meluncurkan layanan kami di sana pada akhir tahun.”

TransferWise bukan satu-satunya pemain nonbank yang melihat peluang di Asia. Startup fintech yang berbasis di Singapura, InstaReM, diperkirakan akan menerima lisensi di Jepang dan Indonesia pada tahun 2019 ini, sedangkan Remitly yang berbasis di AS pada bulan Agustus kemarin sudah membuka kantor di Manila, sekaligus kantor terbesar mereka di luar Negeri Paman Sam.

Perusahaan startup pembayaran yang berbasis di Inggris, Revolut, juga melihat peluang di Asia. CEO Revolut, Nikolay Storonsky, pada tahun lalu sempat mengatakan bahwa pihaknya akan memasuki pasar Jepang dengan rencana untuk memperluas lebih jauh di daerah lain di Asia. Tampaknya, perusahaan kini bersiap untuk meluncurkan layanan pembayaran online seperti pengiriman uang di Negeri Sakura.

World Bank memperkirakan pengiriman uang global mencapai 689 miliar dolar AS pada tahun 2018, naik 9% dari 2017 dan sekitar dua kali lipat dari tahun 2006. Pertumbuhan telah didorong oleh pasar Asia, dengan pengiriman uang ke Asia Selatan tumbuh 12% pada 2018, dibandingkan dengan 6% pada 2017. Asia Timur dan Pasifik juga mengalami pertumbuhan 7% pada 2018, naik 2 poin persentase dari tahun sebelumnya.

Namun, para analis masih melihat lebih banyak potensi di pasar pengiriman uang Asia. Dikatakan seorang ekonom senior di Japan Research Institute, Kaori Iwasaki, mengingat dinamika ekonomi bergeser ke Asia dan akan ada lebih banyak aliran orang di kawasan ini, tren pengiriman uang di Benua Kuning akan terus tumbuh.

Hingga saat ini, industri remitansi memang masih didominasi oleh bank. Namun, gelombang deregulasi memicu kenaikan layanan online, yang dapat menawarkan nilai tukar yang lebih rendah karena mereka tidak bergantung pada cabang bank fisik dan sistem tradisional. Menurut World Bank, biaya pengiriman rata-rata global turun menjadi 6,8% pada 2019 dari 10% pada 2009.

Inggris sudah mengizinkan TransferWise menjadi nonbank pertama yang bergabung dengan sistem pembayaran nasional pada tahun lalu. Dengan memotong bank perantara, perusahaan dapat mentransfer uang secara instan dan menurunkan biaya pemrosesan. Selain itu, TransferWise sekarang dapat mengeluarkan nomor akun untuk pelanggan di Inggris.

Jepang pada tahun 2018 juga sudah mengamandemen undang-undang pencucian uang dan memperbolehkan pelaku bisnis untuk memverifikasi pelanggan dengan dokumen online, bukan melalui surat. Otoritas setempat pun sedang berdiskusi mengenai kemungkinan perusahaan nonbank untuk menangani pengiriman uang lebih dari 1 juta yen, mulai pertengahan 2021 mendatang.

Negara tetangga, China, juga berencana untuk melonggarkan beberapa batasan. Pada bulan Juli, pihak berwenang setempat mengumumkan bahwa mereka akan mengakhiri batas kepemilikan untuk asing di sektor keuangannya pada tahun 2020. “Persaingan telah meningkat di antara penyedia layanan pengiriman uang. Baik bank dan pemain nonbank bersaing satu sama lain dengan menyediakan layanan bernilai tambah dan menurunkan biaya,” ujar direktur Asosiasi Fintech Jepang, Takane Hori.

Loading...