Didanai Venture Capital, Startup Kopi Kenangan & Fore Sasar Segmen Menengah

Kopi Kenangan - id.techinasia.comKopi Kenangan - id.techinasia.com

JAKARTA – di kini semakin seiring dengan tren minum di masyarakat yang meluas. Startup berskala premium pun mulai bermunculan mengikuti laju zaman. Bahkan, dua startup Indonesia, Kenangan dan Fore Coffee, mampu menarik investasi dari venture capital untuk lebih memperluas di kelas menengah, segmen yang belum banyak tergarap.

Dilansir Nikkei, kopi di Indonesia saat ini naik 26% dalam lima tahun hingga 2018, menurut Departemen Pertanian AS. Tetapi, menurut Edward Tirtanata, pendiri Kopi Kenangan, pasar memiliki celah besar antara kopi instan kelas bawah yang tersedia di toko dan ramuan espresso yang dijual oleh merk-merk seperti Starbucks. “Kopi instan harganya cuma Rp1.000, sedangkan dengan lebih baik bisa Rp40.000. Ada celah di tengah, dan itulah yang kami tuju,” katanya.

Premis yang sama berlaku untuk Fore Coffee. Harga kopi di tempat ini sekitar Rp35.000 per cangkir, lebih mahal dari sajian yang ditawarkan Kopi Kenangan. Namun, pelanggan diberi banyak diskon sehingga jarang membayar harga penuh. “Tidak ada kopi layak yang bisa Anda dapatkan dengan mudah dengan harga terjangkau,” tutur co-founder Fore Coffee, Elisa Suteja.

Venture capital kemudian mendapati diri mereka tertarik pada startup ini, dengan potensi margin tinggi dari model ‘grab and go’, yang mirip dengan startup China, Luckin Coffee, yang sekarang terdaftar di bursa Nasdaq di AS. Keberhasilan IPO Luckin Coffee, saham umumnya diperdagangkan di atas harga 17 dolar AS yang ditawarkan pada bulan Mei 2019, menunjukkan bahwa ada jalan keluar untuk bisnis makanan dan minuman.

Di Indonesia, kopi instan lebih diminati oleh orang-orang berpenghasilan rendah, sementara kopi kelas atas seperti yang tersedia di Starbucks sebagian besar dinikmati oleh orang kaya. Sekarang, potensi merk kopi harian untuk jajaran konsumen berpenghasilan menengah yang membengkak di negara ini juga berperan dalam menarik venture capital terkemuka.

Kopi Kenangan telah mengumpulkan total 28 juta dolar AS, dengan 20 juta dolar AS berasal dari Sequoia Capital. Fore, yang dimulai sebagai proyek yang di-inkubasi dalam East Ventures yang berfokus pada tahap awal, telah mengumpulkan 9,5 juta dolar AS dalam Seri A yang dipimpin oleh East Ventures dan bergabung dengan SMDV, venture capital yang merupakan bagian dari Sinar Mas Group.

“Dengan pembayaran digital dan infrastruktur pengiriman di kota-kota besar diurus oleh Grab dan Go-Jek, pertanyaan selanjutnya adalah kategori apa yang diletakkan di atas infrastruktur,” ujar Melisa Irene dari East Ventures. “Jika itu dilakukan dengan benar, kami setidaknya bisa mendapatkan pengguna untuk (membelinya) lima kali seminggu, dibandingkan dengan e-commerce, ketika 10 transaksi per tahun dianggap baik.”

Untuk menjaga biaya operasional tetap minimum, sebagian besar toko berbentuk kios, dengan sedikit atau tanpa tempat duduk. Pelanggan dapat memesan melalui aplikasi khusus yang sering memberikan diskon dan solusi antrean panjang. Pelanggan yang memesan melalui aplikasi ini juga dapat memilih agar minuman mereka dikirim oleh Go-Jek atau Grab, dengan pembayaran melalui layanan dompet digital Grab atau Go-Jek.

Kopi Kenangan didirikan pada tahun 2017 lalu, sedangkan Fore muncul setahun kemudian dan masing-masing usaha ini mengalami ekspansi. Kopi Kenangan memiliki 94 toko yang tersebar di seluruh Indonesia dengan rencana untuk meningkatkan total menjadi 150 gerai pada akhir tahun 2019. Sementara, Fore sudah memiliki 72 outlet dan berencana untuk menjadi 135 toko pada Desember mendatang.

Fore mengatakan bahwa mereka menggunakan data yang dikumpulkan oleh platform untuk memahami preferensi menu pelanggan dan juga mencari tahu tempat terbaik untuk membuka outlet baru. Mereka ingin tahu di mana pelanggan mereka. “Kami tidak ingin hanya membuka toko di mana saja. Kami ingin dapat membuka toko dengan pelanggan kami ada di sekitar area,” kata Elisa.

Kopi di Indonesia sudah ada sejak ratusan tahun lalu, dengan biji-bijian diperkenalkan pada awal 1700-an ketika Belanda mulai datang. Pada pergantian abad, Jawa telah menjadi sumber terbesar biji arabika berkualitas tinggi untuk pasar Eropa. Tetapi, setelah wabah membuat banyak tanaman mati di sekitar tahun 1880-an, pohon-pohon Arabika di Jawa Barat digantikan dengan spesies yang disebut robusta, yang lebih tahan terhadap penyakit tetapi tidak memiliki rasa kompleks dari arabika.

Loading...