Gegara COVID-19, Startup ASEAN Pangkas Biaya & Hentikan Ekspansi untuk Bertahan

Startup ASEAN - www.nusabali.comStartup ASEAN - www.nusabali.com

SINGAPURA – Ketika dunia ramai-ramai berjuang melawan pandemi coronavirus yang baru, para startup menghadapi pertempuran lain, ‘membakar uang’. Pasalnya, dengan ekonomi yang lumpuh akibat wabah, banyak startup yang berjuang untuk memangkas , termasuk memotong gaji atau upah pegawai yang masih bekerja, memotong pemasaran, dan menghentikan ekspansi, agar tetap bisa bertahan.

Dilansir dari Nikkei, startup , FOMO Pay, telah mengharapkan tahun pertumbuhan yang menjanjikan di masa depan, karena sektor keuangan di Asia Tenggara terus booming dengan meningkatnya belanja melalui dompet virtual. Namun, wabah COVID-19 membuat fintech yang berbasis di Singapura mundur karena pembayaran digital menurun lebih dari 50% sepanjang Februari.

terpaksa harus melepaskan beberapa pekerja paruh waktu dan menunda rencana ekspansi ke luar negeri. Menurut pendiri FOMO, Zack Yang, dengan pemangkasan tersebut, membantu mengurangi biaya sekitar 10% hingga 20%. “Ini adalah situasi yang sangat buruk dan pasar modal jelas tidak terlalu positif,” kata Yang.

Yang menambahkan bahwa startup miliknya juga harus menerapkan pemotongan gaji karyawan antara 20% hingga 50%. Untungnya, terjunnya mereka baru-baru ini ke dalam bisnis pengiriman lintas batas, ditambah dengan langkah-langkah pemangkasan, dapat menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupi biaya operasi pada bulan Maret.

FOMO adalah salah satu dari sekumpulan startup muda di Asia Tenggara yang menghadapi masa-masa sulit karena pandemi virus corona, yang memberikan pukulan baru terhadap arus kas. Giden Lim, kepala eksekutif startup pengiriman bunga yang berbasis di Malaysia, BloomThis, dan anggota SEA Founders, mengatakan bahwa perusahaannya telah terpukul oleh perintah kontrol negaranya, yang telah melarang pertemuan massal dan sebagian besar perjalanan masuk dan keluar negara.

“Pendapatan telah turun 90% dan kami tidak yakin berapa lama (kebijakan) ini akan diperpanjang,” tutur Lim. “Itu juga tidak berarti bahwa segala sesuatunya akan kembali seperti semula (setelah pembatasan dicabut). Situasi ini telah (mengakibatkan) banyak stres secara finansial. Saya dipaksa untuk memotong semua biaya pemasaran, mencari bantuan dari bank, dan mempertimbangkan mengurangi gaji pegawai.”

Sementara itu, pengembang game yang berbasis di Indonesia, Agate International, telah memutuskan untuk membekukan perekrutan karena pembayaran dari beberapa klien telah ditunda. Chief Operating Officer Agate, Shieny Aprilia, mengatakan bahwa perusahaannya sedang bertahan dalam periode ketidakpastian yang panjang dengan langkah-langkah pemotongan biaya. “Kami sedang menyiapkan rencana enam hingga 12 bulan sampai semuanya kembali normal,” katanya.

Setelah melakukan survei di antara para anggotanya di tengah krisis, para pendiri SEA Founders menemukan bahwa lebih dari 70% startup menganggap pendapatan tertunda sebagai tantangan terbesar mereka, dengan 62% menyebutkan kebutuhan mendesak untuk mengucurkan dana pribadi. Perusahaan-perusahaan ini, yang biasanya menggunakan model percepatan pengeluaran untuk ekspansi, harus melambat.

Pengecer kacamata online asal Thailand, Glazziq, dan platform rekrutmen dari Indonesia, Urbanhire, juga mengatakan mereka harus menyesuaikan dengan tantangan operasi saat ini. Menurut Chief Executive Glazziq, Prinda Pracharktam, startup-nya telah menangguhkan penyesuaian gaji dan paket bonus hingga akhir tahun, selain membahas kembali rencana ekspansi.

Yang lain harus mengalami lebih banyak rasa sakit. Situs perjalanan wisata asal Indonesia, Traveloka, harus melepaskan sekitar 100 orang, atau 10% dari karyawan startup. Perusahaan memproses pengembalian dana besar-besaran pada bulan Februari sebagai dampak menurunnya sektor pariwisata. Pembatasan saat ini untuk pergerakan orang sebagai antisipasi virus juga merupakan tantangan bagi startup untuk mencari dana.

Investasi dalam startup di kawasan ASEAN oleh pemodal ventura dan lainnya mencapai angka 9,5 miliar AS pada 2019, turun sekitar 30% dari tahun sebelumnya, menurut data dari DealStreetAsia, situs berita keuangan Singapura yang mayoritas dimiliki oleh Nikkei. Di belakang tren penurunan ini adalah karena investor menjadi lebih selektif tentang startup setelah IPO seperti Uber Technologies anjlok di bursa saham.

Selain itu, investor sudah waspada bahwa pandemi akan menghantam ekonomi global dan pasar modal pada kuartal pertama, sehingga membuat startup lebih sulit untuk mengumpulkan dana. Direktur pelaksana di Sequoia Capital India, GV Ravishankar, memperingatkan agar pendiri startup segera memotong pengeluaran karena bakal sangat sedikit dana yang tersedia.

Sementara startup dapat bersandar pada langkah-langkah stimulus ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah Asia Tenggara, Jixun Foo, managing partner di perusahaan modal ventura yang berbasis di China, GGV Capital, mengatakan bahwa mereka juga harus mengoptimalkan operasi sambil tetap berpegang pada talenta mereka. Menurutnya, terlihat lebih baik dalam mengelola keuangan perusahaan dan mengkonsolidasikan beberapa kegiatan, akan menunjukkan kekuatan perusahaan kepada investor di masa depan.

Loading...