Stamina Mengendur, Rupiah Melemah di Akhir Rabu

Rupiah - beritagar.idRupiah - beritagar.id

JAKARTA – Stamina terus mengendur hingga perdagangan Rabu (11/3) sore ketika kasus terinfeksi corona di dalam negeri bertambah 8 orang, menjadi 27 orang per Selasa (10/3) kemarin. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup melemah 22 poin atau 0,16% ke level Rp14.374 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp14.323 per dolar AS, menguat 88 poin atau 0,61% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.411 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak variatif, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,93% dialami yen Jepang dan pelemahan terdalam sebesar 0,42% menghampiri baht Thailand.

Mata uang Benua Kuning, seperti dilansir Bloomberg, bergerak mixed karena investor menantikan rincian dari AS mengenai langkah-langkah stimulus yang direncanakan untuk melawan dampak dari wabah penyakit baru. Di tengah ketidakpastian tersebut, investor cenderung memburu aset safe haven, mengerek nilai tukar yen Jepang.

“Risiko resesi telah melonjak karena Covid-19 dan pertarungan berkelanjutan antara kekhawatiran dan harapan stimulus menunjukkan pasar aset menjadi sangat tersinkronisasi,” tutur ahli strategi makro di DBS Bank, Singapura, Chang Wei Lang. “Perdagangan valas di Asia akan didominasi oleh fluktuasi yang volatil dalam sentimen aset berisiko.”

Dari pasar global, indeks dolar AS harus kembali turun, termasuk terhadap aset safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss pada hari Rabu, karena sentimen gugup atas epidemi coronavirus bertahan. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,390 poin atau 0,40% ke level 96,024 pada pukul 12.06 WIB, setelah sebelumnya ditutup menguat tajam 1,52 poin atau 1,6%.

“Masih terlalu dini untuk mengatakan sentimen pasar telah berubah positif. Rebound dolar AS kemarin, merupakan rebound yang sering Anda lihat dalam tren turun,” kata analis mata uang senior di MUF Bank, Shinji Ishimaru, dilansir Reuters. “Selain langkah-langkah , fokusnya pada seberapa banyak pemerintah AS dapat membendung infeksi untuk menjaga perekonomian tetap berjalan.”

Loading...