Sriwijaya Dikabarkan Ingin Akhiri Kemitraan, Kebangkitan Garuda Terancam

Maskapai Penerbangan Sriwijaya Air - getlost.idMaskapai Penerbangan Sriwijaya Air - getlost.id

JAKARTA – domestik terbesar ketiga di dalam negeri, , sedang berupaya mengakhiri kemitraan dengan Garuda , kurang dari setahun sejak kedua maskapai tersebut bergabung untuk menghadapi Lion Air. Dikabarkan, Sriwijaya tidak senang dengan ketentuan kemitraan dengan Garuda, dan telah mencari cara untuk melanggar perjanjian sejak mereka kembali meraih profitabilitas awal tahun ini.

Diberitakan Nikkei, awal pekan ini, Garuda menyediakan kembali pemeliharaan untuk Sriwijaya setelah berhenti memasok dan suku cadang, dengan alasan utang yang belum dibayar. Kementerian Perhubungan sebelumnya telah memberikan ultimatum, menuntut agar Sriwijaya menghentikan operasi jika gagal menemukan penyedia pemeliharaan. “Kami sudah melanjutkan pemeliharaan untuk Sriwijaya dan akan berjalan bertahap,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Ashkara.

Memang, jika mengakhiri aliansi dengan Sriwijaya, akan memaksa Garuda mempertimbangkan kembali strategi mereka untuk mengejar pemimpin pasar domestik, Lion Air, yang memegang 51 persen pangsa pasar perjalanan udara di dalam negeri pada 2017, menurut CAPA Center for Aviation. Sementara, Garuda dan Sriwijaya memiliki pangsa pasar gabungan sebesar 46 persen.

Perjanjian kemitraan keduanya, yang ditandatangani November lalu dan tidak melibatkan transfer ekuitas, memiliki efek langsung pada kinerja kedua maskapai. Garuda mampu mengubah kerugian 179,2 juta dolar pada 2018 menjadi laba 20,4 juta dolar dalam tiga bulan hingga Maret tahun ini, sedangkan penjualan kuartal pertama Sriwijaya melonjak 43,7 persen menjadi Rp2,6 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sriwijaya juga mencatat laba bersih Rp41,1 miliar untuk tiga bulan hingga Maret, dibandingkan dengan kerugian Rp484,3 miliar untuk periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, aliansi ini memungkinkan Garuda untuk mengeksplorasi rute internasional yang lebih menguntungkan seperti layanan baru yang menghubungkan Bali, Medan, dan Amsterdam, sedangkan rebound Sriwijaya telah membantunya untuk mulai membayar utang, termasuk kepada Garuda.

Penghentian operasi Sriwijaya, jika terjadi, akan memengaruhi kemampuannya untuk membayar utang sebesar 118,7 juta kepada anak perusahaan pemeliharaan pesawat Garuda, GMF AeroAsia. Sriwijaya juga dikabarkan berutang kepada perusahaan milik , Pertamina, sebesar Rp942 miliar, Rp585 miliar kepada BNI, serta masing-masing Rp80 miliar dan Rp50 miliar kepada PT Angkasa Pura II dan PT Angkasa Pura I.

Kesulitan neraca Sriwijaya diperparah tahun lalu oleh kejatuhan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang tiba-tiba, dan merupakan insentif utama bagi grup untuk mencari aliansi dengan Garuda. Tanda lain perselisihan antara mitra aliansi juga muncul akhir bulan lalu ketika logo Garuda Indonesia dihapus dari badan pesawat milik kelompok Sriwijaya. Juga, pada bulan September, rapat pemegang saham Sriwijaya melakukan pemecatan terhadap direktur yang dikirim dari Garuda.

Anak perusahaan Garuda, Citilink, sempat mengajukan gugatan pada 25 September, menuntut Sriwijaya menghormati kontrak usaha patungan yang ditandatangani kedua pihak tahun lalu. Namun, menurut Ari, Citilink setuju untuk membatalkan gugatan mereka ‘demi penumpang’. Awal pekan ini, Citilink telah menegaskan kembali komitmen Garuda terhadap kemitraan dengan Sriwijaya.

“Dengan perjanjian ini, kami, Garuda Group dan Sriwijaya, berharap bahwa komitmen ini dapat menjadi titik dari apa yang kami sebut titik balik kami,” kata Direktur Pelaksana Citilink, Juliandra Nurtjahjo kepada wartawan. “Komitmen kami selalu, pertama, memprioritaskan keselamatan kelaikan udara pesawat Sriwijaya adalah prioritas.”

Loading...