Sri Mulyani Redakan Pasar, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (7/9) sore - www.inews.id

JAKARTA – Walau nilainya terus tergerus, namun tetap mampu mempertahankan posisi di area hijau pada perdagangan Senin (7/9) sore ketika polemik amandemen UU BI sedikit mereda. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.740 per AS.

Sementara itu, data yang dirilis Bank pukul 10.00 WIB tadi menempatkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.754 per dolar AS, menguat 38 poin atau 0,26% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.792 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang Asia mengungguli , termasuk yuan China, baht Thailand, dan won Korea Selatan.

Menurut analisis CNBC Indonesia, konferensi pers Menteri , Sri Mulyani, pada akhir pekan kemarin berhasil meredakan situasi domestik, salah satunya mengenai rencana amandemen UU Bank Indonesia dan pembentukan Dewan Moneter, yang mungkin dapat mengurangi kadar independensi bank sentral. Sri Mulyani menegaskan bahwa pemerintah belum membahas amandemen UU BI yang merupakan inisiatif DPR.

“Dapat dijelaskan bahwa sampai hari ini, pemerintah belum membahas RUU inisiatif DPR tersebut. Penjelasan Presiden adalah sangat jelas, bahwa kebijakan moneter harus tetap kredibel, efektif, dan independen,” tandas Sri Mulyani. “Sementara, dalam hal burden sharing, ada dua jenis pembagian beban, yakni pembiayaan anggaran untuk pemenuhan kebutuhan rakyat yang hanya berlaku tahun ini dan BI menjadi pembeli siaga obligasi pemerintah di perdana jika tidak bisa menyerap.”

Dari pasar global, indeks dolar AS bergerak stabil pada hari Senin setelah data pekerjaan AS menunjukkan pertumbuhan pekerjaan melambat pada bulan Agustus, sedangkan para pedagang mengalihkan fokus mereka ke pertemuan Bank Sentral Eropa pada hari Kamis (10/9). Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,158 poin atau 0,17% ke level 92,877 pada pukul 11.45 WIB.

Dilansir dari Reuters, laporan Departemen Tenaga Kerja AS pada hari Jumat (4/9) kemarin menunjukkan bahwa pertumbuhan pekerjaan AS melambat dan kehilangan pekerjaan permanen meningkat karena pendanaan pemerintah mulai habis, meningkatkan keraguan atas keberlanjutan pemulihan . Namun, tingkat turun menjadi 8,4% dari 10,2% di bulan Juli.

Loading...