Skandal dengan Facebook, Ini yang Dilakukan Cambridge Analytica untuk Kampanye Trump

Cambridge Analytica - www.trtworld.comCambridge Analytica - www.trtworld.com

Saat ini, terbesar di dunia, , sedang berada dalam sorotan setelah The Times dan The Guardian melaporkan bahwa Cambridge Analytica, mantan konsultan kampanye Donald Trump, menggunakan lebih dari 50 juta pengguna untuk kepentingan kampanye AS 2016. Karena kasus tersebut, perusahaan analitik data asal Inggris tersebut sekarang menghadapi serangkaian investigasi dari London, AS, serta audit dari Facebook sendiri.

Dikutip dari TRT World, Cambridge Analytica adalah dari SCL Group, kontraktor pemerintah dan militer yang bekerja pada segala sesuatu, mulai dari penelitian pangan hingga kontra-narkotika serta kampanye politik. Cambridge Analytica didirikan sekitar 2013, yang awalnya fokus pada pemilihan AS, dengan dukungan 15 juta dolar AS dari miliarder Robert Mercer.

Cambridge Analytica memasarkan diri sebagai penyedia penelitian konsumen, iklan, dan layanan terkait data lainnya, baik untuk klien politik maupun perusahaan. Perusahaan yang menggunakan jasa Cambridge Analytica di antaranya surat kabar harian yang ingin tahu lebih banyak tentang pelanggannya, merek pakaian wanita yang mencari penelitian tentang pelanggannya, dan perusahaan asuransi mobil asal AS. Lokasi kantor perusahaan ini berada di New York, Washington, London, Brasil, dan Malaysia.

Setelah Trump memenangkan pemilu pada tahun 2016 lalu, Cambridge Analytica langsung menjadi pusat perhatian. Perusahaan itu membanggakan diri karena bisa mengembangkan profil psikologis konsumen dan pemilih, yang merupakan ‘saus rahasia’ yang digunakan untuk memengaruhi pemilih secara lebih efektif daripada periklanan tradisional.

Nah, baru-baru ini, Cambridge Analytica dikabarkan sejak tahun 2014 lalu telah memperoleh data dari 50 juta pengguna Facebook melalui cara yang ilegal. Menurut klaim New York Times dan Observer London pada Sabtu (17/3), data tersebut diambil oleh sebuah aplikasi yang dikembangkan oleh seorang akademisi Inggris bernama Aleksandr Kogan. Sebanyak 270.000 orang mengunduh aplikasi dan masuk dengan akun Facebook mereka.

Aplikasi kemudian mengumpulkan data serta tentang teman-teman mereka, dan kemudian Kogan meneruskan data tersebut ke Cambridge Analytica. Cambridge Analytica sendiri sempat mengatakan bahwa awalnya tidak tahu Kogan melanggar ketentuan Facebook, dan mereka mengklaim telah menghapus data pada tahun 2015.

Otoritas perlindungan data Inggris saat ini sedang menyelidiki apakah Facebook menanggapi dengan kuat laporan bahwa Cambridge Analytica secara tidak benar memperoleh akses ke data 50 juta pengguna. Britain’s Information Commissioner, Elizabeth Denham, Selasa (20/3) kemarin mengatakan sedang mencari surat perintah sebagai bagian dari penyelidikan yang lebih luas untuk menangani kasus tersebut.

Di sisi lain, Facebook mengatakan bahwa mereka telah ‘menekan’ Cambridge Analytica untuk memberikan jawaban, setelah mendapatkan jaminan dari perusahaan pada tahun 2015 bahwa mereka telah menghapus semua data. Facebook telah menyewa auditor dari perusahaan Stroz Friedberg untuk membantu investigasi ini.

Loading...