Situasi Yuan Labil, BI Ambil Sikap Hati-hati

Ekonomi negara berkembang berjuang untuk mengatasi dampak keputusan yang melemahkan yuan. Meksiko peringatkan risiko dari devaluasi kompetitif, dan Thailand mengatakan akan terpengaruh.

Di Indonesia, di mana telah melihat ruang di bulan lalu untuk memotong bunga pinjaman, Gubernur BI mengatakan ia prioritaskan stabilitas ketika menetapkan tarif bunga dan memantau perkembangan global.

“Pasar negara berkembang tidak dapat memisahkan dari apa yang terjadi di ,” kata Jonathan Cavenagh, head of Asia emerging-market currency strategy di Chase di Singapura. “Peran Cina yang penting bagi sebagian besar negara berkembang lainnya masih cukup lemah, dan dilatari dari melemahnya , itu akan membebani sentimen tempat lain.”

“Dulu, Anda menutup mata Anda dan Anda tahu yuan stabil atau menguat, dan itu keadaan yang sama sekali berbeda dengan keadaan kita sekarang,” kata Wellian Wiranto, ekonom Oversea-Chinese Banking Corp di Singapura. “Sekarang semuanya tergantung pada apa yang terjadi pada pukul 9:15 am setiap hari di China” ketika bank sentral menetapkan acuan yuan, kata Wiranto. “Ini bukan waktu yang tepat untuk membuat perkiraan jangka panjang.”

Di Asia Tenggara, “meningkatnya yields riil menunjukkan ada ruang untuk pelonggaran moneter,” kata Toru Nishihama, ekonom pasar pada Dai-ichi Life Research Institute di Tokyo. Tetapi di bawah sentimen risk-off saat ini dan yang dipicu oleh perkembangan di Cina, bank sentral harus berpikir bahwa tindakan tersebut memiliki dampak lebih dari mata uang, yangmana mempersulit situasi, katanya.

Agus Martowardojo, Gubernur bank sentral di Indonesia, pada hari Jumat mengatakan bahwa pembuat kebijakan melihat ruang untuk pelonggaran kebijakan pada pertemuan Desember, tetapi menahan diri dari menentukan apakah ruangan yang tersisa. BI selanjutnya bertemu pada tingkat pada minggu mendatang. Agus juga mengatakan masih “relatif tinggi”. [yap/]

Loading...