Siswa Dilatih Belajar Mandiri, Ini Rincian Biaya Les di Kumon Malang

Les Kumon - almontijourdanm.blogspot.co.idLes Kumon - almontijourdanm.blogspot.co.id

Kumon adalah yang telah dikembangkan di Jepang sejak puluhan tahun silam. Tak hanya di Jepang, Kumon kini telah menyebar ke sejumlah negara termasuk . Berbeda dari lembaga bimbingan belajar (LBB) pada umumnya, Kumon menawarkan metode belajar perorangan yang level awalnya ditentukan secara perorangan pula. di Kumon pun dipatok relatif terjangkau, hanya berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 280 ribuan, tergantung areanya.

Adapun untuk yang termasuk dalam Provinsi Jawa Timur (Area 2), biaya pendaftaran yang dikenakan sebesar Rp 280 ribu. Kemudian siswa juga dikenai biaya bulanan untuk jenjang Prasekolah – SD sebesar Rp 370 ribu, sedangkan biaya Kumon Malang untuk jenjang SMP – SMA sebesar Rp 420 ribu per bulan.

Uang kursus bulanan tersebut dikenai per subjek per siswa. Jadi jika siswa di Malang mengambil program Matematika dan Bahasa Inggris di kelas Kumon, total uang kursus yang dibayarkan adalah Rp 1.020.000. Biaya ini bisa mengalami perubahan sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Oleh sebab itu, orang tua yang tertarik mendaftarkan anaknya les di kelas Kumon biasanya dianjurkan untuk datang langsung ke Kumon terdekat untuk memperoleh informasi lebih jelas. Selain itu Kumon juga kerap mengadakan promo coba gratis agar siswa bisa mengetahui langsung seperti apa rasanya belajar dalam kelas Kumon.

Di Kumon, anak-anak akan dilatih secara mandiri sesuai dengan kemampuannya masing-masing, sehingga tidak terbatas oleh jenjang pendidikannya saat ini. “Kalau anaknya usia SD tapi sudah bisa matematika SMP ya kita beri soal yang SMP. Di sini anak-anak belajar mandiri dan bisa melatih kemampuan berhitungnya, melatih soft skillnya, jadi bukan cuma sekedar belajar Matematika,” kata penyelia Sumatera Kalimantan Division Kumon, Ratsania Rahmaniarti, seperti dilansir Tribunnews.

Kursus di Kumon pun tidak dibimbing oleh guru, tetapi kertas tugas yang diberikan yang bertugas sebagai ‘guru’. “Di Kumon tidak ada guru, jadi di dalam kelas yang sama bisa ada peserta dari berbagai macam usia. Kertas tugas itulah gurunya. Mereka akan mengerjakan soal sesuai kemampuan masing-masing, secara tidak langsung kita membuat siswa tidak tergantung pada gurunya. Melainkan kemampuannya sendiri yang dikedepankan,” ucapnya.

Loading...