Simbol Eksistensi, Muslim Perancis Dukung Penggunaan Burqa

Sebagian besar di ternyata mendukung pandangan konservatif Islam, termasuk penggunaan cadar bagi perempuan dan poligami. Meski begitu, mayoritas penduduk juga menerima sekuler yang berlaku di Perancis.

Menurut survei, 29 persen responden percaya bahwa prinsip lebih penting daripada hukum Perancis, demikian laporan koran lokal Le Journal du Dimanche pada Minggu (18/9). Sementara, sekitar 20 persen Muslim laki-laki dan 28 persen perempuan mendukung pemakaian burqa yang menutupi seluruh wajah, dan niqab, yang hanya meninggalkan ruang untuk mata.

Survei tersebut juga menemukan bahwa Muslim lebih memilih untuk menerapkan aturan konservatif di berbagai isu. Hanya 56 persen dari mereka yang mengatakan bakal mengunjungi kolam renang umum, jauh dibandingkan responden pria yang mencapai 75 persen.

“Islam adalah cara mereka untuk menegaskan eksistensi di masyarakat Perancis,” ungkap laporan tersebut. “Burqa dan poligami digunakan sebagai sarana ‘pemberontakan’ kepada mayoritas warga Perancis.”

Di samping itu, dua per tiga dari responden mengatakan mereka mendukung hak untuk mengenakan jilbab yang menutupi rambut wanita, namun tetap menampakkan wajah. Seperti diketahui, jilbab dilarang digunakan sebagai simbol di mayoritas dan universitas di Perancis.

Survei ini sendiri diselenggarakan Institut Montaigne dan melibatkan lebih dari 1.000 responden yang mengidentifikasi mereka sebagai seorang Muslim yang semuanya berusia lebih dari 15 tahun. Jajak pendapat ini dilakukan pada bulan April dan Mei, sebelum insiden tabrakan truk di Nice dan perdebatan mengenai pelarangan penggunaan burqini di Perancis.

Responden dibagi menjadi tiga dengan “benar-benar sekuler” mencapai 46 persen dari total responden. kedua sebesar 25 persen yang “bangga sebagai Muslim” dan menerima pembatasan agama dalam domain publik meski menentang burqa serta poligami, namun juga ingin lebih banyak ruang bagi mereka di tempat kerja.

Sisanya, sebesar 29 persen adalah responden yang paling “bermasalah”. Kategori ini sebagian besar terdiri dari kaum muda, memiliki tingkat keterampilan yang rendah, dan partisipasi di pasar tenaga kerja yang juga rendah. Sekitar setengah dari responden yang berusia lebih muda dari 25 tahun termasuk dalam kategori ketiga ini.

Loading...