Sesuai Prediksi, Rupiah Melemah 0,51% di Akhir Kamis

Rupiah - eljohnnews.comRupiah - eljohnnews.com

JAKARTA – Seperti yang sudah diprediksikan sebelumnya, harus menutup Kamis (24/9) sore di area merah, setelah ramai-ramai meninggalkan aset berisiko seiring kebangkitan . Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir melemah 75 poin atau 0,51% ke level Rp14.890 per dolar AS.

Sementara itu, data yang dirilis Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.949 per dolar AS, terdepresiasi 114 poin atau 0,77% dari sebelumnya di level Rp14.835 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,34% dialami ringgit Malaysia dan kenaikan tertinggi sebesar 0,09% menghampiri peso Filipina.

Sebelumnya, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, seperti dilansir Bisnis, sudah memprediksi bahwa rupiah akan bergerak turun pada perdagangan hari ini. Menurutnya, ada sejumlah sentimen yang perlu dicermati dalam pergerakan nilai tukar rupiah, salah satunya perkembangan rancangan Undang-Undang Bank Indonesia yang dianggap janggal oleh investor asing.

Dari , dolar AS memperpanjang kenaikan terhadap sebagian besar mata uang pada hari Kamis setelah anda-tanda perlambatan ekonomi di Eropa dan AS meningkatkan kekhawatiran tentang gelombang kedua infeksi virus corona. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,035 poin atau 0,04% ke level 94,424 pada pukul 12.41 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, nilai tukar greenback kemungkinan akan terus naik karena lonjakan dalam kasus virus corona dan peringatan Federal Reserve bahwa ekonomi AS membutuhkan lebih banyak stimulus fiskal, menyebabkan investor memulangkan dana dari aset berisiko. Dolar AS sebelumnya telah menguat karena meningkatnya infeksi virus corona di Eropa dan Inggris merusak optimisme investor tentang kemajuan vaksin.

Sebaliknya, sentimen untuk euro telah mengalami pukulan besar setelah survei yang dirilis pada hari Rabu (23/9) menunjukkan pembatasan baru untuk memadamkan kebangkitan infeksi virus corona membuat industri jasa zona Eropa mundur. Suasana untuk aset berisiko juga memburuk setelah data menunjukkan aktivitas bisnis AS melambat pada bulan September ini.

Loading...