September Deflasi 0,18%, Rupiah Berakhir di Area Merah

Rupiah melemah pada senin sore - mediaindonesia.com

Laporan yang menunjukkan bahwa Indonesia kembali mengalami sepanjang bulan September 2018 gagal mengatrol rupiah untuk terus bergerak menguat pada Senin (1/10) sore. Menurut paparan Bloomberg Index pukul 15.54 WIB, Garuda harus ditutup melemah tipis 8 poin atau 0,05% ke level Rp14.911 per .

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa sepanjang bulan September 2018, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,18% secara bulanan, karena komoditas yang menurun. Dengan deflasi ini, tingkat Januari-September 2018 sebesar 1,94%, sedangkan secara tahunan mulai September 2017 hingga September 2018 sebesar 2,88%.

“Dari 82 kota IHK yang dipantau, 66 kota terjadi deflasi, namun 16 kota masih mengalami inflasi,” papar Kepala BPS, Suhariyanto, kepada wartawan. “Deflasi tertinggi terjadi di Pare Pare sebesar 1,59%, sedangkan terendah di Tegal, Singkawang, Samarinda, dan Ternate masing-masing 0,01%. Sementara, inflasi tertinggi terjadi di Bengkulu sebesar 0,59% karena kenaikan angkutan udara.”

Pendorong utama terjadinya deflasi adalah turunnya sejumlah harga pangan, seperti daging ayam, bawang merah, dan cabai rawit. Harga daging ayam turun 0,13%, bawang merah minus 0,05%, ikan segar minus 0,04%, sayuran dan telur ayam masing-masing turun 0,03%, dan cabai rawit minus 0,02%. “Kelompok bahan pangan menyumbang deflasi terbesar dengan andil minus 0,35%,” sambung Suhariyanto.

Sementara itu, dari global, indeks dolar AS terpantau menguat terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Senin, meski sempat turun versus dolar Kanada, setelah Paman Sam mencapai kesepakatan dengan Kanada untuk memperbarui perjanjian NAFTA. Mata uang naik 0,090 poin atau 0,09% ke level 95,222 pada pukul 11.44 WIB.

Dilansir Reuters, sumber yang memiliki informasi langsung tentang perundingan menegaskan bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan, yang menawarkan lebih banyak akses perah ke peternak AS serta Kanada dan menyetujui pengaturan surat-surat yang secara efektif membatasi ekspor mobil ke AS. Sementara, sumber Meksiko yang dekat dengan pembicaraan NAFTA secara terpisah mengatakan bahwa mereka memiliki kesepakatan trilateral.

“Meskipun pasar sudah mengantisipasi kesepakatan, satu sumber kekhawatiran akan hilang jika kesepakatan dibuat,” ujar ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities di Tokyo, Yukio Ishizuki. “Itu akan mengarah pada peningkatan kepercayaan dalam perekonomian AS, sehingga mudah bagi sentimen risiko untuk meningkat.”

Loading...