Sepi Sentimen Penggerak, Rupiah Lanjut Melemah di Selasa Pagi

rupiah melemah

kembali harus melemah pada awal Selasa (28/11) ini karena sepinya sentimen positif. Seperti diwartakan Index, Garuda mengawali hari ini dengan penurunan sebesar 21 poin atau 0,16% ke level Rp13.529 per . Sebelumnya, spot sudah terkoreksi tipis 4 poin atau 0,03% di posisi Rp13.508 per AS pada tutup dagang Senin (27/11) kemarin.

“Rupiah sedang minin sentimen penggerak dan terdapat kemungkinan tengah menanti pidato calon gubernur The Fed, Jerome Powel, pada 28 November waktu setempat,” ujar Analis Central Capital Futures, Wahyu Tribowo Laksono. “Diyakini, terdapat kemungkinan Powell akan menyuarakan kebijakan yang hawkish sehingga berpotensi melemahkan laju mata uang Garuda.”

Senada, Analis Senior Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, menuturkan bahwa rupiah yang pada dasarnya minim katalis cenderung bergerak melemah meski laju dolar AS juga terdepresiasi akibat penguatan yang dialami euro. Mata uang Benua Biru naik setelah merespons kenaikan business confidence Jerman dan berkurangnya kekhawatiran akan ketidakstabilan politik di negara tersebut.

“Pelemahan laju rupiah juga kemungkinan tidak terlepas dari adanya rumor berkurangnya kunjungan asing ke Indonesia seiring penutupan sementara Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali akibat peningkatan aktivitas Gunung Agung,” kata Reza. “Meski rumor tersebut tidak sepenuhnya berimbas pada mata uang domestik, namun dimanfaatkan pasar untuk melepas posisi rupiah dan kemungkinan beralih ke euro.”

Dari pasar global, minyak mentah dunia kembali turun seiring kenaikan jumlah rig di AS serta berlanjutnya ketidakpastian seputar strategi OPEC untuk memperpanjang upaya pemangkasan pasokan. Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari ditutup melemah di level 58,11 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, sedangkan minyak Brent berakhir di posisi 63,84 dolar AS per barel di ICE Futures Europe Exchange.

“Apa yang kita lihat adalah keraguan menjelang pertemuan OPEC pada pekan ini. Setelah kegembiraan selama tiga pekan, semakin gugup,” papar Analis Pasar Minyak di Stratas Advisors, Ashley Petersen. “Itu akan menjadi pendorong dominan, terlepas dari data fundamental mingguan.”

Loading...