Sentimen Yield AS ‘KO’ Suku Bunga BI, Rupiah Berbalik Melemah 98 Poin

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

positif kenaikan suku bunga Bank terhadap pergerakan rupiah ternyata tidak berlangsung lama, karena ‘ditundukkan’ kenaikan imbal hasil AS. Menurut Index pukul 15.59 WIB, Garuda harus puas mengakhiri Jumat (18/5) ini dengan berbalik 98 poin atau 0,70% ke level Rp14.156 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sempat ditutup menguat 39 poin atau 0,28% di posisi Rp14.058 per dolar AS pada perdagangan Kamis (17/5) kemarin. Tren positif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka naik tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.053 per dolar AS. Sayangnya, setelah itu, spot harus kembali terjerembab ke zona merah hingga tutup transaksi.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di level Rp14.107 per dolar AS, terdepresiasi 33 poin atau 0,23% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp14.074 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan sebesar 0,53% menghampiri rupiah, disusul rupee India yang anjlok 0,26%.

Dari , indeks dolar AS kembali melaju pada hari Jumat, disokong kenaikan yang dialami imbal hasil (yield) obligasi Paman Sam. Mata uang tersebut terpantau menguat tipis 0,011 poin atau 0,01% ke level 93,480 pada pukul 11.02 WIB, setelah sebelumnya ditutup naik 0,077 poin atau 0,08% di posisi 93,469 pada Kamis waktu setempat.

Menurut laporan yang diturunkan Bloomberg, yield obligasi AS dengan tenor 10 tahun ditutup di angka 3,122%, level tertinggi dalam hampir tujuh tahun terakhir. Sekadar informasi, sejak awal tahun 2018 ini, yield US Treasury tenor 10 tahun sudah meningkat lebih dari 50 basis poin, sekaligus peningkatan terbesar dalam delapan tahun.

Kenaikan imbal hasil obligasi ini mencerminkan kelanjutan optimisme tentang ekonomi AS, sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pinjaman setidaknya dua kali pada tahun ini dan mengangkat greenback. “Jika imbal hasil naik lebih lanjut, dolar AS bisa menguat dan berada lebih tinggi melawan yen Jepang,” kata ahli senior di Barclays di Tokyo, Shinichiro Kadota.

Loading...