Sentimen The Fed Tahan Laju Rupiah di Pasar Spot

Rupiah - economy.okezone.comRupiah - economy.okezone.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Rabu (22/5) dengan pelemahan sebesar 8 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp 14.488 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (21/5), Garuda berakhir terdepresiasi 25 poin atau 0,17 persen ke level Rp 14.480 per .

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat tipis. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS terpantau naik 0,13 persen menjadi 98,0631 lantaran para pelaku pasar saat ini masih mencermati terbaru Amerika Serikat dan komentar dari para pejabat .

National Association of Realtors melaporkan bahwa data total penjualan existing-home, yang meliputi rumah keluarga tunggal, townhome, kondominium, dan koperasi mengalami penurunan sebesar 0,4 persen dari bulan Maret ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 5,19 juta pada April 2019, demikian seperti dilansir Xinhua melalui iNews.

Sementara itu, pada sebuah acara yang diselenggarakan oleh Economic Club of New York, Presiden The Fed Boston Eric Rosengren mengungkapkan bahwa tak ada yang jelas untuk mengubah arah kebijakan moneter bank sentral dalam waktu dekat.

Selain itu, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell pun menegaskan jika suku bunga The Fed masih bertahan di level 2,25 persen hingga 2,5 persen. Pernyataan itu pula yang seolah menghambat gerak rupiah untuk menguat terhadap dolar AS.

Menurut Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan, menguatnya dolar AS di pasar spot didominasi oleh sentimen di balik ekspektasi bahwa The Fed tak akan memangkas suku bunga acuannya pada tahun ini. Hal itu pula yang sekaligus mengakibatkan rupiah tak berdaya di hadapan dolar AS. “Apalagi imbal hasil obligasi AS naik, wajar dollar AS jadi menguat,” kata Ahmad Yudiawan, seperti dilansir Kontan. Sentimen mengenai pilpres pun juga turut mempengaruhi rupiah. Oleh sebab itu, Ahmad memprediksi bahwa hari ini rupiah akan kembali melemah.

Loading...