Sentimen The Fed Pangkas Rupiah 12 Poin di Awal Dagang

Jakarta dibuka 0,09 persen atau 12 poin ke level Rp 13.570 per di awal pagi hari ini, Jumat (25/11). Sebelumnya, Kamis (24/11) rupiah berakhir 0,50 persen atau 68 poin ke Rp 13.558 per dolar AS usai diperdagangkan di kisaran angka Rp 13.508 hingga Rp 13.586 per dolar AS.

Riset Treasury Bank Negara , Nurdiyanto mengatakan jika rupiah tertekan oleh faktor , terutama dari Amerika Serikat. Rupiah terpuruk di pasar spot exchange karena dalam rilis catatan kembali menegaskan jika akan menaikkan suku bunga acuan pada bulan Desember 2016 depan.

“Hal ini mendukung penguatan posisi dolar AS di hadapan mata uang dunia lainnya termasuk rupiah,” kata Nurdiyanto. Meski menekan berbagai mata uang utama yang lain, di penutupan indeks dolar hanya menguat tipis sebesar 0,01 persen ke posisi 101,71. Indeks dolar melemah ketika pasar AS libur menjelang hari perayaan Thanksgiving.

Sementara itu Research and Analyst Garuda Berjangka Sri Wahyudi mengungkapkan jika dari faktor dalam negeri sendiri tak ada data ekonomi terbaru yang dapat menopang posisi rupiah terhadap dolar AS. Justru isu soal demonstrasi masih bergema dan menimbulkan kekhawatiran pada investor.

Rupiah makin tertekan lantaran kebutuhan dolar AS di dalam negeri makin tinggi menjelang akhir bulan. Nurdiyanto memperkirakan jika kurs rupiah masih berpeluang untuk melanjutkan depresiasinya. “Meski tekanannya akan mengecil, mengingat biasanya di akhir pekan pasca libur nasional, penguatan dolar AS akan sedikit tertahan,” katanya.

Sejak terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS, prospek peningkatan pertumbuhan ekonomi AS pun semakin menguat dan memicu probabilitas kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan depan. “Dolar telah benar-benar kuat dalam mengantisipasi langkah (Gubernur Fed) Janet Yellen bulan depan,” ujar Nicholas Teo, Ahli Strategi KGI Fraser Securities, Jumat (25/11).

Loading...