Sentimen The Fed Memudar, Rupiah Tetap Berakhir Melemah

Rupiah - fajar.co.idRupiah - fajar.co.id

Terus bergerak di zona hijau, ternyata gagal mempertahankan posisi pada Kamis (27/9) sore meski dukungan terhadap AS perlahan memudar setelah The Fed menaikkan . Menurut laporan Index pukul 15.58 WIB, Garuda berakhir melemah 12 poin atau 0,08% ke level Rp14.923 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.919 per dolar AS, naik 19 poin atau 0,13% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.938 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang unggul melawan greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,6% menghampiri won Korea Selatan.

Dari global, indeks dolar AS sebenarnya bergerak stabil di area hijau pada perdagangan Kamis, meski dorongan kecil yang diterima dari kenaikan suku bunga The Fed mulai memudar dan imbal hasil Treasury AS bergerak turun. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,073 poin atau 0,08% ke level 94,266 pada pukul 11.13 WIB, meneruskan tren positif pada awal transaksi.

Diberitakan Reuters, seperti yang sudah diperkirakan, memutuskan menaikkan suku bunga acuan mereka pada rapat minggu ini. Bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,25% pada Rabu (26/9) waktu setempat. Dengan kenaikan ini, The Fed sudah mengatrol suku bunga acuan sebanyak tiga kali sepanjang 2018, yang juga menempatkan suku bunga pinjaman naik menjadi 3,4%.

The Fed menyatakan bahwa mereka telah mengakhiri era kebijakan moneter yang akomodatif dan mungkin akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember mendatang. Tidak hanya itu, suku bunga acuan juga akan dinaikkan sebanyak tiga kali pada tahun depan, dan satu kenaikan pada tahun 2020 mendatang. Setelah keputusan ini, dukungan terhadap greenback perlahan memudar dan pergerakan imbal hasil Treasury menurun.

“Pertemuan The Fed tidak memberikan arah yang kuat untuk mata uang. Ini karena pandangan pembuat kebijakan dan pandangan mereka tentang kenaikan suku bunga sepanjang 2020 sebagian besar sudah diantisipasi pasar,” tutur ahli strategi senior FX di IG Securities, Junichi Ishikawa. “Sementara itu, dolar AS telah menjadi lemah terhadap yen Jepang karena penurunan imbal hasil dan saham yang lebih lemah.”

Loading...