Sentimen Negatif Menyerang, Rupiah Lunglai di Awal Pekan

Rupiah melemahmembuka transaksi dengan melemah 33 poin atau 0,23% ke level Rp13.988 per dolar AS - faktualnews.co

JAKARTA – Sejumlah sentimen negatif dari dalam dan langsung membuat lunglai pada awal Senin (11/2) ini. Seperti dilaporkan Index, mata uang Garuda membuka transaksi dengan melemah 33 poin atau 0,23% ke level Rp13.988 per . Sebelumnya, spot sempat berakhir menguat 18 poin atau 0,13% di posisi Rp13.955 per pada Jumat (8/2) kemarin.

“Defisit transaksi berjalan (current account defisit atau CAD) sebesar 3,57% dari produk domestik bruto pada kuartal IV 2018 dikhawatirkan menjadi sentimen negatif bagi rupiah,” jelas analis Asia Trade Point Futures, Deddy Yusuf Siregar, dilansir Bisnis. “Sebab, pada pekan ini, belum terlihat ada data-data ekonomi domestik yang signifikan menetralkan sentimen tersebut.”

Sementara, dari luar negeri, ia menambahkan, pelaku cenderung berhati-hati dalam menyikapi perkembangan situasi global. Terlebih, baru-baru ini Presiden AS, , menyatakan keengganan bertemu dengan Presiden , Xi Jinping, dalam waktu dekat. “Kita lihat juga masih adanya kekhawatiran dari melambatnya ekonomi di zona Eropa,” sambung Deddy.

Di sisi lain, ekonom pasar uang Bang Mandiri, Reny Eka Putri, menuturkan bahwa data neraca pembayaran Indonesia (NPI) yang dirilis Bank Indonesia pada Jumat kemarin, menyatakan bahwa kuartal IV 2018 mengalami surplus sehingga menopang ketahanan sektor eksternal. Setelah pada kuartal sebelumnya mengalami defisit, NPI pada kuartal IV 2018 mencatat surplus sebesar 5,4 miliar dolar AS.

“Defisit tersebut terutama dipengaruhi oleh impor nonmigas yang tinggi, khususnya bahan baku dan barang modal, sebagai dampak dari kuatnya aktivitas ekonomi dalam negeri, di tengah kinerja ekspor nonmigas yang terbatas,” tutur Reny, dikutip Kontan. “Kenaikan defisit juga didorong oleh peningkatan impor minyak seiring peningkatan rerata minyak dunia dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) domestik.”

Pada pekan ini, Reny mengatakan bahwa fokus pasar masih tertuju pada sikap The Fed, apakah testimoni mereka masih dovish sepanjang tahun ini. Pasalnya, pasar melihat kenaikan suku bunga masih akan hati-hati. Karena kekhawatiran ekonomi global melemah dan rilis data AS yang buruk masih menghantui pikiran negara Paman Sam.

Loading...