Sentimen Global Terus Menekan, Rupiah Dibuka Melemah 7 Poin

rupiah - banjarmasin.tribunnews.comrupiah - banjarmasin.tribunnews.com

Sentimen eksternal, terutama krisis di Turki, tetap menjadi momok bagi pada awal Selasa (14/8) ini. Seperti dituturkan Index, Garuda membuka dengan melemah tipis 7 poin atau 0,05% ke level Rp14.615 per AS. Sebelumnya, spot sudah berakhir terdepresiasi 130 poin atau 0,90% di posisi Rp14.608 per AS pada Senin (13/8) kemarin.

“Pelemahan yang dialami mata uang merupakan imbas dari kekhawatiran terhadap krisis mata uang di Turki,” ujar Kepala Riset PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dilansir . “Karena kekhawatiran pasar akan krisis di Turki, maka mereka melarikan aset ke safe haven seperti dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss.”

Ariston melanjutkan, krisis keuangan yang terjadi di Turki juga turut menimbulkan kekhawatiran pada negara-negara tetangganya sesama anggota Uni Eropa, sehingga membuat mata uang Benua Biru melemah dan memberi kekuatan untuk greenback. Menurutnya, pelemahan yang terjadi karena krisis ini juga menimpa seluruh mata uang emerging market.

Hampir senada, Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Reny Eka Putri, bilang bahwa rupiah melemah karena pelaku pasar panik terhadap masalah geopolitik AS dengan Turki dan melemahnya mata uang lira. Depresiasi lira yang hampir mencapai 50% sejak awal tahun 2018 menyebabkan mata uang emerging market, termasuk rupiah, juga ikut tertekan.

“Namun, rupiah yang melemah karena tersenggol sentimen krisis Turki tidak akan berlangsung lama karena bentuk kerja sama perdagangan Indonesia dengan Turki sangat kecil,” ujar Reny. “Hanya, euforia pelaku pasar saat ini sangat sensitif, yang membuat dolar AS bergerak naik dan emerging market kompak memerah.”

Setelah krisis Turki mereda, Reny menuturkan bahwa mata uang dalam negeri berpotensi bergerak stabil ke kisaran Rp14.490 hingga Rp14.600 per dolar AS untuk satu bulan ke depan. Meski demikian, tekanan terhadap rupiah masih tetap ada, tentunya dari rencana yang kemungkinan menaikkan kembali suku bunga mereka.

Loading...