Sentimen Global Sedang Suram, Rupiah Berakhir Melemah

rupiah - kumparan.comrupiah - kumparan.com

JAKARTA – Rupiah harus menerima nasib terkapar di teritori merah pada Kamis (16/4) sore, karena sentimen negatif tengah menyelimuti pasar , termasuk data ritel AS yang dilaporkan memburuk. Menurut paparan Index pada pukul 14.52 WIB, Garuda ditutup melemah 65 poin atau 0,42% ke level Rp15.640 per dolar AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp15.787 per dolar AS, terdepresiasi 80 poin atau 0,51% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.707 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,96% menghampiri rupiah.

Dari pasar global, indeks dolar AS bergerak lebih tinggi terhadap mata uang lainnya pada Kamis, meski data ritel dan pabrik yang anjlok menunjukkan parahnya keruntuhan aktivitas AS yang disebabkan oleh pandemi coronavirus yang baru. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,361 poin atau 0,36% ke level 99,822 pada pukul 13.00 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, penjualan ritel AS turun 8,7% sepanjang bulan Maret 2020, sekaligus penurunan terburuk sejak tahun 1992 silam, karena warganya menghemat pengeluaran dengan tidak berbelanja di tengah wabah . Sebuah laporan dari Federal Reserve secara terpisah menunjukkan output manufaktur anjlok 6,3% pada bulan lalu, penurunan terbesar sejak Februari 1946.

Federal Reserve New York juga melaporkan bahwa indeks manufaktur Empire State, yang melacak aktivitas di sektor untuk Negara Bagian New York, jatuh ke level terendah sepanjang masa. Semua angka suram itu seolah menyiram air dingin ketika pasar berharap wabah mungkin mendekati puncaknya dengan banyak negara maju yang ingin membuka kembali perekonomian mereka segera bulan depan.

“Mengingat skala dan luasnya penutupan di AS, tebakan terbaik kami adalah kontrak ekonomi sekitar 13% dari puncak-ke-palung sebelum pembukaan kembali pada pertengahan Mei,” kata kepala ekonom internasional di ING, James Knightley. “Ini akan melibatkan beberapa bentuk jarak sosial yang terus-menerus, yang berarti bahwa pengembalian ke ‘bisnis seperti biasa’ bisa memakan waktu berbulan-bulan.”

Loading...