Sentimen Global Belum Stabil, Rupiah Terkikis di Awal Pekan

diprediksi masih berpotensi melemah pada perdagangan awal pekan (24/10) ini karena terseret pelemahan global. Seperti diwartakan Bloomberg Index, mengawali sesi dagang hari ini dengan pelemahan tipis 4 poin 0,03% ke Rp13.046 per . Kemudian, pada pukul 08.38 WIB, mata uang Garuda kembali terdepresiasi 8 poin atau 0,06% ke posisi Rp13.050 per .

“Sentimen positif memang masih akan meminta rupiah yang lebih kuat,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Namun, sentimen global yang masih belum stabil dengan kecenderungan negatif jelang beberapa peristiwa penting bakal menjadi pengganjal bagi mata uang dalam negeri.”

Dari dalam negeri, usai kebijakan memangkas acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% pada pekan lalu, kini fokus beralih ke yang akan dirilis awal bulan depan. Naiknya komoditas pangan utama akibat cuaca telah menaikkan ekspektasi dalam negeri ke depan.

Sementara, dari global, euro masih dalam tren pelemahan bahkan semakin menajam usai tengah minggu lalu ECB berkomitmen menambah stimulus. “Hal itu berdekatan dengan FOMC meeting usai Pemilu AS di awal November 2016,” sambung Rangga.

“Sore dan malam nanti ditunggu angka manufaktur Zona Euro dan AS yang keduanya diprediksi membaik,” sambungnya. “Sementara, minyak masih positif usai dan Rusia berkomitmen memangkas produksi meski ada gangguan dengan Irak yang belum ingin berpartisipasi.”

Senada, Analis Central Capital Futures, Wahyu Tri Wibowo, mengatakan bahwa dampak pernyataan petinggi ECB dan data perumahan AS yang positif masih akan mendukung AS. Sementara, dari dalam negeri, rupiah masih sepi dukungan. “Rupiah akan terkikis dan bergerak di kisaran Rp12.980 hingga Rp13.150 per AS,” kata Wahyu.

Loading...