Sentimen Fed Terlalu Kuat, Rupiah Berakhir Drop

Rupiah - rebanas.comRupiah - rebanas.com

praktis tidak memiliki tenaga untuk keluar dari zona merah pada Kamis (18/10) sore seiring kuatnya sentimen ekspektasi kenaikan The Fed yang kini mencapai angka 83%. Menurut Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda melemah 45 poin atau 0,30% ke level Rp15.195 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi mematok tengah berada di posisi Rp15.187 per dolar AS, terdepresiasi 9 poin atau 0,05% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.178 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,53% menghampiri won Korea Selatan.

Dari , indeks dolar AS terus bergerak menguat terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari ini, setelah risalah The Fed menegaskan ekspektasi bahwa bank sentral tersebut kemungkinan akan terus menaikkan suku bunga di sisa tahun ini. Mata uang Paman Sam terpantau naik 0,08% ke level 95,65 pada Kamis pagi, setelah sebelumnya sudah berakhir menguat 0,55% di posisi 95,574.

Seperti diberitakan Reuters, risalah pertemuan 25-26 September 2018 menunjukkan bahwa setiap pembuat kebijakan mendukung kenaikan suku bunga lebih lanjut dan pada umumnya setuju bahwa biaya pinjaman akan meningkat, meskipun Presiden AS, Donald Trump, menilai pengetatan sudah terlalu jauh. Menurut FedWatch Tool CME Group, kemungkinan suku bunga The Fed naik pada bulan Desember mendatang meningkat menjadi 83%.

“Daya tarik dolar AS sedang meningkat karena ada sentimen positif setelah risalah FOMC meeting dirilis,” kata kepala strategi mata uang di NAB, Ray Attrill, dikutip Reuters. “Dolar AS saat ini sedang ‘bermain’ untuk pandangan bahwa pasar global sedang memprediksikan apa yang bisa dilakukan Federal Reserve mendatang.”

Selain risalah The Fed, fokus pasar juga tertuju pada perkembangan terkini konfrontasi Roma dengan Uni Eropa terkait anggaran Italia. Rancangan anggaran Italia yang direncanakan keluar tahun depan, yang meningkatkan pengeluaran kesejahteraan serta memotong usia pensiun dan menaikkan defisit pembelanjaan, melanggar aturan fiskal Uni Eropa yang mengharuskan Roma menurunkan utang publik.

Loading...