Sentimen Fed dan Trump Pukul Dolar, Rupiah Ditutup Menguat

mampu bergerak mulus di zona hijau sepanjang Rabu (12/7) ini ketika indeks cenderung melemah karena terpukul komentar pejabat The Fed dan kondisi politik Paman Sam. Menurut Bloomberg Index pukul 15.54 WIB, uang Garuda mengakhiri dengan penguatan sebesar 20 poin atau 0,15% ke level Rp13.370 per .

Membuka perdagangan hari ini, rupiah langsung bergerak naik 17 poin atau 0,13% ke posisi Rp13.373 per . Selepas jeda siang atau pukul 13.49 WIB, mata uang Garuda kembali mengalami apresiasi sebesar 18 poin atau 0,13% ke level Rp13.372 per dolar . Jelang penutupan atau pukul 15.45 WIB, spot makin nyaman di zona hijau setelah menguat 22 poin atau 0,16% ke posisi Rp13.368 per dolar .

Dari , pergerakan indeks dolar AS kembali melemah seiring dengan sentimen dovish dari pejabat Federal Reserve dan meningkatnya ketidakpastian kondisi politik di Negeri Paman Sam. The greenback terdepresiasi 0,02 poin atau 0,02% menuju level 95,649 pada pukul 10.17 WIB, sekaligus merupakan pelemahan dalam dua sesi secara beruntun.

Indeks dolar AS kembali melorot setelah pernyataan salah satu Gubernur The Fed, Lael Brainard, yang cenderung dovish. Brainard mengemukakan bahwa Bank Sentral AS harus berhati-hati mengenai rencana kenaikan suku bunga lanjutan. Imbal hasil obligasi AS pun menurun setelah pasar merespons pernyataan Brainard ini.

Penurunan obligasi AS ini berbanding terbalik dengan obligasi dalam negeri yang justru meningkat. Pada lelang hari Selasa (11/7) kemarin, jumlah obligasi Indonesia yang terjual mencapai Rp17 triliun, sekaligus melebihi target senilai Rp15 triliun. “Fundamental ekonomi Indonesia yang menguntungkan mendukung adanya penerbitan surat utang berikutnya,” ujar Ekonom Senior ING Bank NV, Joey Cuyegkeng.

Sementara itu, dari sektor politik, seperti dilaporkan Bloomberg, risiko politik Paman Sam kembali meningkat setelah ada informasi bocornya email pembicaraan antara anak Presiden AS, yaitu Donald Trump Jr., dengan seorang pengacara Rusia. Informasi tersebut menyatakan pemerintah Rusia mendukung kampanye Trump dan mencoba menjegal langkah Hillary Clinton.

Loading...