Sentimen Donald Trump, Rupiah Terjun Bebas 245 Poin di Akhir Pekan

Spekulasi kebijakan yang bakal dikeluarkan AS yang baru, Donald Trump, membuat mata uang di limbung, termasuk . Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda tak mampu keluar dari tekanan sehingga menutup sesi dagang akhir pekan (11/11) ini dengan terjun bebas 245 poin atau 1,86% ke level Rp13.383 per AS.

Rupiah sudah mengawali perdagangan hari ini dengan turun 256 poin atau 1,95% ke posisi Rp13.394 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali terdepresiasi 198 poin atau 1,51% ke Rp13.336 per dolar AS. Jelang tutup dagang atau pukul 15.54 WIB, spot semakin tenggelam di teritori negatif dengan anjlok 231 poin atau 1,76% ke posisi Rp13.369 per dolar AS.

“Pasar negara berkembang di Asia sangat rentan terhadap arus keluar uang panas,” ujar Gubernur Bank Sentral Malaysia, Muhammad Ibrahim. “Selain itu, ketidakpastian akibat kegelisahan setelah kemenangan tidak terduga Trump membuat pergerakan mata uang Asia tidak berkembang.”

Senada, Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani, mengatakan bahwa faktor utama melempemnya rupiah adalah perubahan atau perkembangan situasi di Negeri Paman Sam usai Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS yang baru. “Kami akan melihat perkembangan yang ada. Dalam situasi sekarang ini, kami akan mengidentifikasi faktor-faktor di luar fundamental yang memengaruhi psikologis,” katanya.

“Setiap kebijakan yang diambil oleh AS sebagai negara dengan perekonomian terbesar memang akan berpengaruh terhadap negara lain,” sambungnya. “Namun, tidak akan tinggal diam dan akan terus meyakinkan investor mengenai pondasi Indonesia.”

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan intervensi dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah, yakni dengan intervensi di pasar valuta asing dan Surat Berharga Negara (SBN). “Tetapi, kalau dilihat secara fundamental, ekonomi Indonesia sebenarnya dalam kondisi yang terus membaik,” kata Mirza.

Loading...