Sentimen Dolar Masih Kuat, Rupiah Tertekan di Awal Dagang

masih belum bisa keluar dari zona merah seiring dengan sentimen penguatan yang terus berlanjut di . Seperti diwartakan Index, mata uang Garuda mengawali sesi dagang hari ini (21/2) dengan pelemahan sebesar 11 poin atau 0,08% ke Rp13.365 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.19 WIB, spot kembali 19 poin atau 0,14% ke level Rp13.373 per dolar AS.

“Dolar AS masih melanjutkan penguatan karena didukung Paman Sam yang positif serta pidato , ,” ujar Ekonom BCA, David Sumual. “Pasar juga masih melihat peluang Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan pada bulan Maret mendatang, dan sentimen ini lebih berpengaruh ketimbang sentimen domestik yang sebenarnya cukup positif.”

Ditambahkan David, tidak hanya rupiah, mata uang emerging market juga berpeluang melemah karena sentimen global. “Rupiah hari ini kemungkinan bergerak di kisaran Rp13.330 hingga Rp13.390 per dolar AS,” sambung David.

Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, mengutarakan bahwa di tengah sentimen penguatan dolar AS di pasar Asia hingga kemarin sore, rupiah berhasil stabil meski dengan bias pelemahan tipis, dibarengi penguatan tipis IHSG dan SUN. “Sentimen politik akan semakin intensif ke depan jelang putaran kedua Pilkada DKI. Seperti hari ini, beberapa ormas Islam dijadwalkan menggelar aksi,” ujar Rangga.

“Sentimen dolar kuat diperkirakan bertahan sehingga ruang penguatan rupiah bisa semakin terbatas dalam jangka pendek,” imbuh Rangga. “Saat ini, fokus pasar masih tertuju pada notulensi FOMC meeting yang dirilis Kamis (23/2) dini hari mendatang, serta data manufaktur Zona Euro dan AS yang diumumkan hari ini dan diperkirakan turun tipis.”

Loading...