Sentimen AS Masih Membayangi, Rupiah Melemah

Kurs Rupiah - www.viva.co.idKurs Rupiah - www.viva.co.id

JAKARTA – Rupiah masih betah berada di zona merah pada Selasa (30/3) pagi ketika pemulihan yang lebih cepat membuat dana lebih banyak parkir di AS. Menurut laporan Index pada pukul 09.03 WIB, Garuda melemah 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.455 per dolar AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 27,5 poin atau 0,19% di posisi Rp14.445 per dolar AS pada hari Senin (29/3) kemarin.

Koreksi pada kemarin menempatkan rupiah pada posisi keempat dari negara-negara Asia yang mata uangnya melemah. Yuan China tercatat mengalami koreksi terbesar dengan 0,34%, disusul baht Thailand yang turun 0,31%. Menyusul di belakangnya adalah won Korea Selatan yang melemah 0,20%, sedangkan rupee India berada di bawah rupiah dengan koreksi 0,16%.

Menurut FX Senior Dealer Bank Sinarmas, Deddy, dilansir dari Bisnis, pelemahan rupiah yang terjadi kemarin dipengaruhi masih tingginya tingkat permintaan korporasi terhadap dolar AS. Hal tersebut memang umumnya terjadi menjelang penutupan kuartal I tiap tahun. Meski demikian, ia menilai pergerakan mata uang Garuda masih dalam batas yang wajar.

“Rupiah berpeluang berbalik menguat pada perdagangan hari ini seiring dengan sikap yang menantikan rilis data Indonesia pada 1 April mendatang, yang diperkirakan masih terjaga di level 1,4% secara year-on-year atau 0,1% secara bulanan,” ujar Deddy. “Range pergerakan rupiah kemungkinan di level Rp14.400 hingga Rp14.500 per dolar AS.”

Sedikit berbeda, analis Internasional Berjangka, Sutopo Widodo, menilai bahwa rupiah akan bergerak stabil pada hari ini, tetapi dengan kecenderungan melemah. Pasalnya, kurva imbal hasil US Treasury yang stabil berkat beberapa data ekonomi seperti inflasi yang lebih lemah telah membawa ketenangan ke pasar di pekan lalu.

“Fokus untuk minggu ini datang dari pasar tenaga kerja. Nonfarm payrolls diperkirakan akan mencatat kenaikan kuat, setelah pelonggaran penuh di beberapa negara bagian AS,” katanya seperti dikutip dari Kontan. “Kenaikan gaji non-pertanian untuk Maret diantisipasi 500.000, jam kerja diasumsikan rebound 1,0%, dengan kenaikan minggu kerja dari 34,6 ke 34,8 akibat cuaca di bulan Februari.”

Analis Global Kapital Investama, Alwi Assegaf, juga mengungkapkan bahwa saat ini rupiah masih dalam tertekan terhadap dolar AS, karena sentimen ekspektasi pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam yang lebih cepat dibandingkan dengan negara lainnya, membuat dana lebih banyak yang parkir di AS. Selain itu, belum ada data ekonomi dalam negeri yang dirilis dan fokus pasar masih tertuju pada dolar AS, sehingga rupiah masih akan terseok-seok.

Loading...