Senin Sore, Rupiah Tetap Stay di Zona Merah

Rupiah melemahPada perdagangan Senin (17/6) sore Rupiah tetap melemah - www.konfrontasi.com

JAKARTA – Rupiah gagal merangsek ke teritori hijau pada perdagangan Senin (17/6) sore setelah indeks dolar masih melayang di dekat posisi tertinggi dua minggu menjelang pertemuan Federal Reserve di tengah pekan. Menurut paparan Index pukul 15.56 WIB, spot melemah 12 poin atau 0,08% ke level Rp14.337 per dolar .

Sementara itu, Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.346 per dolar AS, turun 42 poin atau 0,29% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.304 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata Asia tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,24% dialami ringgit Malaysia.

Dari global, indeks dolar AS masih bertahan di dekat posisi tertinggi dua minggu terhadap rival utamanya pada Senin, menjelang pertemuan penting Federal Reserve AS, yang diprediksi akan meletakkan dasar bagi penurunan . Paman Sam terpantau hanya melemah tipis 0,028 poin atau 0,03% ke level 75,544 pada pukul 13.24 WIB.

Diberitakan Reuters, data penjualan ritel AS pada hari Jumat (14/6) yang dilaporkan cukup kuat mengurangi peluang pelonggaran yang sudah rendah minggu ini dan mengangkat dolar AS. Namun, bertaruh bahwa Gubernur , Jerome Powell, akan membiarkan pintu tetap terbuka untuk penurunan suku bunga di masa depan mengingat meningkatnya ketegangan .

Ekspektasi penurunan suku bunga pada pertemuan The Fed tanggal 18 hingga 19 Juni besok turun dari 28,3% pada hari Kamis (13/6) menjadi 21,7% setelah data ritel AS yang kuat, menurut alat FedWatch CME Group. Namun, taruhan pedagang untuk pelonggaran moneter pada pertemuan Juli mendatang tetap tinggi di angka 85%.

“Selain data AS yang optimistis, dolar AS didukung oleh pelemahan mata uang lainnya, terutama euro,” tutur pakar strategi senior valas di IG Securities, Junichi Ishikawa. β€œThe Fed mungkin akan memangkas suku bunga cepat atau lambat, tetapi kemungkinan begitu juga dengan Bank Sentral Eropa, dan pandangan seperti itu menguntungkan bagi dolar AS.”

Loading...