Senin Sore, Rupiah Tetap Naik Meski Dolar Diburu

Rupiah terus bergerak menguat pada perdagangan Senin (26/11) sore meski indeks dolar AS juga terpantau positif - metrotvnews.com

JAKARTA – terus bergerak pada Senin (26/11) sore meski indeks dolar juga terpantau berkat statusnya sebagai aset safe haven di tengah kekhawatiran pertumbuhan . Menurut data Bloomberg Index pada pukul 15.54 WIB, mata uang Garuda menguat 69 poin atau 0,47% ke level Rp14.475 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.551 per dolar AS, naik tipis 1 poin atau 0,01% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.552 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa melawan greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,44% menghampiri rupee India.

Dari global, indeks dolar AS sebenarnya bergerak lebih tinggi pada hari Senin, karena daya tariknya sebagai aset safe haven di tengah kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan tensi perdagangan AS-. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,043 poin atau 0,04% ke level 96,959 pada pukul 11.36 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, dolar AS, yang dianggap sebagai mata uang safe haven, bergerak positif ketika kapitulasi harga minyak pada pekan kemarin meningkatkan kekhawatiran bahwa pemulihan ekonomi dunia sedang kehilangan tenaga. Harga minyak WTI untuk pengiriman Januari 2019 berakhir melemah 4,21 poin atau 7,71% pada Jumat (23/11) waktu setempat.

Dengan perundingan Brexit yang agaknya masih tetap stagnan untuk jangka pendek, perhatian pasar kini beralih pada pertemuan G20 mendatang di Buenos Aires pada tanggal 30 November. Dalam pertemuan itu, Presiden AS, Donald Trump, dijadwalkan akan membahas masalah perang perdagangan dengan Presiden China, Xi Jinping.

Investor melihat apakah ada kesepakatan yang bisa disimpulkan untuk dapat keluar dari tensi yang terus memanas. Seperti diketahui, Washington ingin menaikkan tarif 10% pada barang impor asal China senilai 200 miliar dolar AS menjadi 25% pada awal tahun depan. Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif pada semua barang China jika Beijing gagal memenuhi tuntutan perdagangan AS.

“Jika ada semacam gencatan senjata yang keluar dari kesepakatan ini, kita akan melihat pelarian dari dolar AS yang bersifat safe haven,” tutur pakar strategi mata uang senior di National Australia , Rodrigo Catril. “Ini akan menjadi pertanda baik untuk mata uang yang berisiko seperti dolar Australia, dolar Selandia Baru, dan mata uang pasar negara-negara berkembang di Asia.”

Loading...