Senin Sore, Rupiah Terus Melemah & Terbenam di Area Merah

Rupiah - www.kaskus.co.idRupiah - www.kaskus.co.id

Keperkasaan greenback yang tanpa cela, di tengah kekhawatiran pasar mengenai eskalasi konflik perdagangan AS-China, praktis menutup peluang rupiah untuk bergerak menguat pada Senin (10/9) sore. Menurut Index pukul 15.59 WIB, Garuda berakhir 37 poin atau O,25% ke level Rp14.857 per .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.835 per dolar AS, menguat 49 poin atau 0,33% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.884 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,76% menghampiri rupee India.

Dari pasar global, indeks dolar AS terpantau bergerak stabil di zona hijau pada awal pekan, menyusul data nonfarm bulan Agustus yang kuat, di tengah kekhawatiran pasar akan kemungkinan eskalasi konflik perdagangan AS-China. Mata uang Paman Sam menguat 0,133 poin atau 0,14% ke level 95,498 pada pukul 11.16 WIB.

Dilansir Reuters, saat ini menunggu episode baru dalam dagang AS-China setelah periode dengar pendapat publik untuk tarif yang diusulkan pada barang impor China senilai 200 miliar dolar AS berakhir Kamis (6/9) pekan lalu. Jumat (7/9) waktu setempat, Donald Trump sempat mengatakan bahwa ia akan menaikkan tarif pada semua barang impor Negeri Panda pada tambahan barang-barang senilai 267 miliar dolar AS.

“Jika ada tanda-tanda bahwa ekonomi AS akhirnya terpukul oleh gerakan proteksionis-nya sendiri, maka saya pikir itu adalah awal dari penghindaran risiko yang justru penuh dengan risiko,” ujar kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto. “Ini setidaknya akan menyebabkan melemahnya dolar AS terhadap yen Jepang.”

Sebelumnya, indeks dolar AS sempat menguat lebih dari 0,3% pada hari Jumat setelah data menunjukkan pertumbuhan pekerjaan AS di bulan Agustus meningkat dan upah mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam lebih dari sembilan tahun. Data yang kuat lebih lanjut mendukung prospek kenaikan lebih cepat oleh Federal Reserve, meningkatkan permintaan untuk greenback.

Loading...