Senin Sore, Rupiah Terus Melaju Selepas Libur Lebaran

Rupiah dan DolarRupiah menguat senin sore - dppkspsi.com

JAKARTA – mampu menjaga posisi di teritori hijau pada perdagangan Senin (10/6) sore selepas libur panjang Lebaran meskipun dolar AS juga bergerak lebih tinggi seiring meredanya tensi geopolitik di kawasan Benua Amerika. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, uang Garuda menguat 19 poin atau 0,13% ke level Rp14.250 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.231 per dolar AS, melonjak 154 poin atau 1,07% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.385 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang justru terpuruk di hadapan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,39% menghampiri yen Jepang.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya masih bergerak lebih tinggi pada hari Senin, setelah Presiden Donald Trump dikabarkan bersedia menangguhkan rencana pengenaan kepada Meksiko. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,224 poin atau 0,25% ke level 96,788 pada pukul 13.22 WIB, melanjutkan tren positif pada awal .

Dilansir Reuters, AS dan Meksiko dikabarkan telah mencapai kesepakatan imigrasi pada akhir pekan kemarin untuk mencegah terjadinya perang tarif, yang memberikan dukungan yang sangat dibutuhkan untuk sentimen pasar yang rapuh. Diketahui, sepanjang tahun lalu, perselisihan dagang antara AS dan mitranya, termasuk konflik jangka panjang dengan China, telah memperlambat pertumbuhan global dan membuat pasar keuangan tidak menentu.

, Donald Trump, mengancam akan mengenakan tarif impor 5% untuk semua barang dari Meksiko yang dimulai pada hari Senin ini jika Meksiko tidak berkomitmen untuk berbuat lebih banyak untuk memperketat perbatasannya. Namun, Meksiko sepakat untuk mengambil langkah tegas menahan gelombang imigran dari Amerika Tengah yang ingin menyeberang ke AS, selain meningkatkan penjagaan di perbatasan bagian selatan negaranya guna menghalau imigran ilegal.

“Kita semua tahu bahwa Donald Trump tidak dapat diprediksi, tetapi ini membawanya ke tingkat yang sama sekali baru,” tutur kepala penelitian yang berbasis di Melbourne di broker valuta asing Pepperstone, Chris Weston. “Ini politik, sosial. Itu berarti bahwa pasar keuangan harus mengenakan premi risiko yang lebih tinggi.”

Loading...