Senin Sore, Rupiah Perkasa Didukung Rilis Obligasi Terbesar Indonesia

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (13/4) sore - www.beritasatu.com

JAKARTA – tetap tidak tergoyahkan di area hijau pada Senin (13/4) sore, didorong pengumuman stimulus obligasi global Indonesia tenor 50 tahun dan kredit senilai 60 miliar AS dari New York. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.57 WIB, Garuda berakhir menguat 250 poin atau 1,57% ke level Rp15.630 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah atau referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp15.840 per dolar AS, terbang 401 poin atau 2,47% dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.241 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang terpuruk melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,60% dialami won Korea Selatan.

“Rupiah menerima katalis yang sangat positif setelah pengumuman obligasi global Indonesia tenor 50 tahun dan stimulus kredit senilai 60 miliar dolar AS dari Federal Reserve New York,” papar ahli strategi makro di DBS Group Holdings Ltd. Singapura, Chang Wei Liang, dilansir Bisnis. “Pandangan saya adalah bahwa valuasi rupiah terhadap dolar AS yang sangat undervalued sebelumnya kini telah terkoreksi, dan akhirnya rupiah bisa lebih dekat dengan nilai wajarnya sekarang.”

Dari global, mata uang komoditas harus tergelincir terhadap unit safe haven seperti dolar AS dan yen Jepang karena pemangkasan rekor minyak yang disepakati oleh OPEC dan negara-negara produsen lainnya gagal mengimbangi kekhawatiran yang lebih luas tentang permintaan global akan sumber daya. Greenback melayang lebih tinggi terhadap dolar Australia dan Selandia Baru, yang dipandang sebagai barometer sentimen risiko, saat khawatir masih membayangi permintaan global untuk komoditas.

“Reaksi awal menunjukkan bahwa penurunan permintaan minyak jauh di depan dari pemotongan output yang disepakati,” kata ahli strategi FX di Daiwa Securities di Tokyo, Yukio Ishizuki, seperti dikutip dari Reuters. “Ini negatif bagi produsen minyak. Ini juga mendorong perdagangan risk-off, yang seharusnya mendukung yen Jepang.”

Pada Minggu (12/4) kemarin, produsen minyak utama setuju untuk pengurangan produksi guna menopang pasar minyak di tengah pandemi coronavirus. Sementara minyak berjangka menghapus kerugian awal untuk diperdagangkan lebih tinggi di Asia, pasar mata uang masih menunjukkan beberapa investor tetap khawatir tentang risiko berlebihan.

Loading...