Senin Sore, Rupiah Melemah Usai Neraca Dagang Defisit

rupiah melemah 73 poin atau 0,50% ke level Rp14.880 per dolar AS - BBC.com

Rupiah praktis tidak mampu keluar dari zona merah sepanjang Senin (17/9) ini setelah domestik bulan Agustus 2018 dilaporkan kembali mengalami defisit serta tekanan dari . Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, uang Garuda 73 poin atau 0,50% ke level Rp14.880 per .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.859 per AS, terdepresiasi 24 poin atau 0,16% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.835 per AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,94% menghampiri rupee India.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik () melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia selama bulan Agustus 2018 mengalami defisit sebesar 1,02 miliar dolar AS secara bulanan. Defisit neraca perdagangan ini terjadi karena nilai ekspor hanya sebesar 15,82 miliar dolar AS atau turun 2,9% dari bulan sebelumnya, sedangkan impor mencapai angka 16,84 miliar dolar AS.

“Hal ini karena adanya penurunan ekspor gas, yang melorot 3,27% secara bulanan dari 1,43 miliar dolar AS menjadi 1,38 miliar dolar AS,” papar Kepala BPS,Suhariyanto, dikutip dari CNN. “Di sisi lain, ekspor non-migas turun 2,86% dari 14,86 miliar dolar AS menjadi 14,43 miliar dolar AS, dengan sektor pertambangan mengalami penurunan cukup tajam di bulan ini karena adanya penurunan ekspor batubara dan bijih tembaga.”

Dari pasar global, indeks dolar AS masih bertahan di atas posisi tertinggi 1,5 bulan pada hari Senin, karena investor menunggu rincian tentang putaran baru AS terhadap , yang bisa lebih memperburuk hubungan antara kedua raksasa ekonomi. Mata uang Paman Sam hanya melemah tipis 0,017 poin atau 0,02% ke level 94,910 pada pukul 11.10 WIB setelah dibuka di area hijau.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Presiden kemungkinan akan mengumumkan tarif baru atas barang asal China dalam beberapa hari mendatang. Tingkat tarif mungkin akan menjadi sekitar 10%, dari semula 25%. Media yang sama juga melaporkan bahwa China dapat menolak untuk menghadiri pembicaraan perdagangan karena Beijing tidak akan bernegosiasi ‘dengan pistol menunjuk ke kepalanya’.

Loading...