Senin Sore, Rupiah Loyo Jelang Libur Imlek

Rupiah melemah jelang libur imlekRupiah melemah jelang libur imlek - tirto.id

JAKARTA – praktis tidak memiliki kekuatan untuk menuju ke teritori hijau pada Senin (4/2) sore, menjelang libur Imlek 2019, ketika indeks dolar cenderung bergerak positif. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.56 WIB, mata uang Garuda melemah 14 poin atau 0,10% ke level Rp13.962 per dolar .

Sementara itu, siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp13.976 per , menguat tipis 2 poin atau 0,01% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.978 per . jual ditetapkan di posisi Rp14.046 per dolar AS, sedangkan beli berada di level Rp13.906 per dolar AS, atau berselisih Rp140.

Dari global, indeks dolar AS relatif bergerak positif pada awal pekan, termasuk terhadap yen Jepang, menyusul data pekerjaan dan manufaktur AS yang kuat. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,106 poin atau 0,11% menuju level 95,685 pada pukul 11.23 WIB, setelah sebelumnya sudah berakhir naik tipis 0,01 poin di posisi 95,579 di hari Jumat (1/2) waktu setempat.

Sebuah laporan Departemen Tenaga Kerja AS terbaru menunjukkan nonfarm payrolls AS melonjak sebesar 304.000 pekerjaan pada bulan lalu, atau kenaikan terbesar sejak Februari 2018. Laporan itu, bersama dengan angka aktivitas manufaktur ISM yang lebih baik dari perkiraan untuk bulan yang sama, menunjukkan kekuatan yang mendasari terbesar di dunia.

Pasar ekuitas global sebelumnya berkinerja kuat sepanjang pekan lalu setelah Federal Reserve mengisyaratkan bisa bersabar dengan kenaikan suku bunga lebih lanjut, menandakan potensi berakhirnya siklus pengetatan. Namun, data ekonomi yang kuat pada akhir pekan memicu imbal hasil Treasury AS rebound tajam, yang pada gilirannya mengangkat dolar AS.

“Poin kunci untuk pasar di minggu ini adalah bagaimana pendapatan perusahaan AS berubah, dan apakah mereka sejalan dengan data yang kuat baru-baru ini,” terang ahli strategi senior FX di IG Securities di Tokyo, Junichi Ishikawa. “Meskipun pendapatan dan fundamental perusahaan tetap penting, perkembangan , terutama situasi perdagangan AS-China, tetap berpengaruh.”

Loading...