Sempat Limbung, Rupiah Akhirnya Ditutup Hijau

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (13/7) sore - sindonews.com

JAKARTA – Tampil mantap pada sesi pagi, kemudian limbung di pertengahan , rupiah akhirnya menyudahi perdagangan Senin (13/7) di teritori hijau ketika aset berisiko terpantau naik seiring harapan pengembangan obat-obatan untuk COVID-19. Menurut paparan Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda menguat 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.425 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank pada pukul 10.00 WIB menempatkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp14.486 per dolar AS, menguat 15 poin atau 0,10% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.501 per dolar AS. Di saat bersamaan, mayoritas mata uang tampil perkasa, dengan penguatan tertinggi sebesar 0,35% dialami dolar Taiwan.

“Di sisi , rupiah akan didukung sentimen potensi pemulihan dan kemajuan vaksin,” ulas Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dilansir Bisnis. “Namun, di lain sisi, mata uang Garuda juga dibayangi kenaikan angka kasus positif COVID-19 di dunia, sehingga memicu kembali potensi lockdown di beberapa negara.”

Dari , indeks dolar AS memulai minggu dengan lemas ketika investor sibuk melihat data ekonomi dari seluruh dunia dan pendapatan perusahaan AS untuk mengukur apakah mampu menjaga optimisme prospek ekonomi atau tidak. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,118 poin atau 0,12% ke level 96,534 pada pukul 14.59 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, kasus di AS terus melonjak selama akhir pekan kemarin, ketika Florida melaporkan peningkatan lebih dari 15.000 kasus COVID-19 dalam 24 jam, sebuah rekor untuk negara bagian mana pun, melampaui rekor puncak di New York pada bulan April lalu. Namun, harapan pengembangan obat-obatan dan vaksin untuk penyakit ini masih mendukung sentimen risiko seperti halnya indikator ekonomi yang sejauh ini menunjukkan pemulihan dari kuncian.

“Kita telah melihat rebound cepat setelah penurunan cepat dalam berbagai data ekonomi. Namun, melihat ke depan, perbaikan bisa melambat atau kita bahkan bisa melihat penurunan karena infeksi kedua,” tutur kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto. “Indeks kepercayaan konsumen mingguan di Australia telah turun setelah lonjakan infeksi di Melbourne dan itu bisa diulang di AS, tempat kasus infeksi jauh lebih besar.”

Loading...