Senin Sore, Covid-19 Bikin Rupiah Berakhir Anjlok 3,85%

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (23/3) sore - www.beritasatu.com

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki dorongan untuk bergerak naik ke area hijau pada perdagangan Senin (23/3) sore ketika pandemi virus masih setia menghantui pergerakan serta ekonomi global. Menurut laporan Index pada pukul 15.50 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 615 poin atau 3,85% ke level Rp16.575 per dolar .

Sementara itu, Bank Indonesia menetapkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) hari ini di posisi Rp16.608 per , terdepresiasi tajam 335 poin atau 2,05% dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.273 per . Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang harus tertunduk lesu, dengan pelemahan terdalam sebesar 3,7% menghampiri rupiah.

“Sebetulnya dolar AS berpeluang tertekan turun dan membantu penguatan aset lainnya, di tengah sikap menunggu terhadap rencana stimulus bantuan ekonomi yang masih dibahas oleh Senat AS,” ujar analis Monex Investindo Futures, Andian, dilansir Bisnis. “Stimulus yang direncanakan sebagai bantuan untuk mengurangi imbas negatif pada ekonomi masyarakat AS oleh wabah corona atau Covid-19 yang makin meluas di sana.”

Dari pasar global, indeks dolar AS memang terpantau bergerak lebih rendah pada hari Senin, ketika keraguan tentang tanggapan pemerintah AS terhadap pandemi coronavirus dan kekhawatiran tentang pengetatan likuiditas memicu perlahan menghindari greenback. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,812 poin atau 0,79% ke level 102,005 pada pukul 12.44 WIB.

Dilansir Reuters, Senat AS gagal untuk memajukan RUU stimulus coronavirus pada hari Minggu (22/3) waktu setempat, tetapi negosiasi sedang berlangsung dan Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa Kongres hampir mencapai kesepakatan. Partai Republik dan Demokrat sedang berjuang untuk menyelesaikan kesepakatan yang bertujuan membendung dampak ekonomi pandemi coronavirus bagi pekerja, industri, dan kecil.

Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, menambahkan bahwa pelemahan yang dialami rupiah diakibatkan kepanikan pasar terhadap yang belum mereda. Ia pun menyerukan agar Bank Indonesia sebaiknya tidak lagi memangkas acuan untuk meredam kepanikan pelaku pasar. Menurutnya, pemangkasan justru menambah kepanikan pelaku pasar.

Loading...