Senin Sore, Rupiah Melempem Saat Kurs Asia Berjaya

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (14/12) sore - www.beritasatu.com

JAKARTA – gagal memanfaatkan pelemahan greenback untuk bergerak pada perdagangan Senin (14/12) sore ketika mayoritas mata uang Asia justru sukses melangkah di area hijau. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 15 poin atau 0,11% ke level Rp14.095 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB tadi menempatkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.158 per dolar AS, terdepresiasi 56 poin atau 0,39% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.102 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sebagian besar mata uang Asia menguat terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,17% dialami dolar Singapura.

Menurut analisis CNBC Indonesia, laju rupiah memang mulai terganggu lantaran sudah menguat secara ugal-ugalan, mencapai 5,19% sejak awal kuartal IV 2020. Dengan nilai tukar dolar AS yang ‘terlalu murah’, pun kesengsem dengan mata uang tersebut. Tidak heran jika kemudian perburuan terhadap greenback membuat mata uang Garuda terdepresiasi.

Dari global, indeks dolar AS diperdagangkan mendekati level terendah 2,5 tahun menjelang pertemuan , dengan para pembuat kebijakan diharapkan untuk meningkatkan pembelian Treasury jangka panjang guna menahan kenaikan imbal hasil. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,358 poin atau 0,39% ke level 90,618 pada pukul 14.52 WIB.

Seperti dilansir Reuters, dolar AS, yang juga berada di bawah tekanan jual baru-baru ini, menghadapi minggu besar karena pertemuan kebijakan The Fed. Investor telah menjual mata uang tersebut karena ekspektasi pemulihan global, didukung oleh berita virus yang positif dan harapan untuk stimulus AS lebih lanjut yang akan mengangkat selera risiko pasar. “Tren sekuler tetap sangat dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS,” tutur direktur di National Australia Bank di Sydney, Tapas Strickland.

Kabar dari Eropa, London dan Brussels pada Minggu (13/12) kemarin sepakat untuk ‘bekerja ekstra’ dalam beberapa hari mendatang guna mencoba mencapai kesepakatan perdagangan yang sulit dipahami. Inggris secara resmi meninggalkan pada bulan Januari 2020, tetapi masih berada dalam masa transisi, dengan peraturan tentang perdagangan, perjalanan, dan bisnis tetap sama.

Loading...