Senin Pagi, Rupiah Lanjut Menguat Selepas Libur Imlek

Ilustrasi: teller bank (sumber: glints.com)Ilustrasi: teller bank (sumber: glints.com)

JAKARTA – Rupiah masih mampu menjaga tren positif pada perdagangan Senin (15/2) pagi selepas libur panjang Imlek. Menurut laporan Index pada pukul 09.24 WIB, Garuda terpantau naik 17,5 poin atau 0,13% ke level Rp13.955 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup menguat 10 poin atau 0,07% di posisi Rp13.972,5 per AS pada Kamis (11/2) kemarin.

Mata uang domestik mampu menguat sebelum libur Imlek lantaran klaim awal  tunjangan pengangguran AS berjumlah 793.000 yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 6 Februari 2021 dibandingkan dengan 812.000 seminggu sebelumnya. Menurut analis senior di Western Union Business Solutions, Joe Manimbo, laju perbaikan glasial kerja membenarkan bias dovish , yang membuat dolar AS rentan terhadap pelemahan jangka pendek.

Sebelumnya, pada Rabu (10/2), Gubernur The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa kerangka kebijakan baru bank sentral dapat mengakomodasi inflasi tahunan di atas 2,0% untuk beberapa waktu sebelum menaikkan suku bunga dan memperkuat ekspektasi pasar dari tren dolar AS yang lemah. Beberapa analis mencatat dolar AS baru-baru ini menjadi lebih sensitif terhadap ekspektasi suku bunga.

Untuk perdagangan kali ini, Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, seperti dikutip dari , mengatakan bahwa terdapat sejumlah sentimen internal dan eksternal yang membuat nilai tukar rupiah bisa bertahan di bawah level psikologis Rp14.000 per dolar AS. akan melakukan pertemuan bulanan dan diprediksi bakal menurunkan suku bunga acuan. Sementara, Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan neraca perdagangan Januari 2021 yang diperkirakan surplus.

VP Economist Bank Permata, Josua Pardede, menuturkan bahwa neraca dagang diprediksi sebesar 1,5 dolar AS miliar, lebih kecil dari realisasi Desember 2020 senilai 2,1 miliar dolar AS. Sementara itu, ekonom Bank Danamon, Wisnu Wardana, memperkirakan bahwa tren positif neraca perdagangan akan berlanjut pada Januari 2021, meski relatif lebih rendah, yaitu sebesar 1,1 miliar dolar AS.

Loading...