Senin Pagi, Rupiah Langsung Melempem Usai Libur Panjang

Rupiah memulai perdagangan Senin (2/11) ini dengan melemah - www.beritasatu.com

JAKARTA – Rupiah agaknya masih mengalami jetlag setelah libur panjang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 09.01 WIB, mata uang Garuda memulai Senin (2/11) ini dengan melemah 50 poin atau 0,34% ke level Rp14.675 per . Sebaliknya, terpantau menguat 0,029 poin atau 0,03% ke posisi 94,082.

“Pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh sentimen ,” ujar Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, dikutip dari . “Saya kira rupiah akan terdorong menguat apabila berjalan lancar tanpa ada dispute terkait siapa yang menjadi pemenang, utamanya lagi kalau Joe Biden yang menang.”

Sementara itu, ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa dari sisi domestik, pergerakan rupiah akan didorong oleh dua rilis data penting. Pertama adalah inflasi pada bulan Oktober dan yang kedua adalah rilis pertumbuhan Indonesia kuartal ketiga yang kemungkinan besar akan berada pada level negatif.

Pada hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) memang dijadwalkan mengumumkan data Indeks Konsumen (IHK) untuk bulan Oktober 2020. Setelah mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memprediksi akan terjadi inflasi sebesar 0,08% secara bulanan, sama seperti perkiraan oleh .

Berdasarkan survei pemantauan harga hingga minggu keempat bulan Oktober 2020, inflasi diperkirakan akan sebesar 0,08% mom. Bank sentral mengklaim, inflasi tersebut berada pada level yang rendah dan masih terkendali. “Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Oktober 2020 secara tahun kalender sebesar 0,97%, dan secara tahunan sebesar 1,46%,” papar Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko, dikutip dari Kontan.

Untuk perdagangan hari ini, analisis CNBC Indonesia menyebutkan rupiah kemungkinan akan mengalami koreksi. Pasalnya, tanda-tanda depresiasi mata uang domestik sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF). Pasar NDF seringkali memengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spo, dan karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Loading...