Melemah di Senin Pagi, Bisakah Rupiah Kembali Menguat?

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (30/3) pagi - mediaindonesia.com

JAKARTA – harus terpeleset ke zona merah pada perdagangan Senin (30/3) pagi. Menurut laporan Index, mata uang Garuda melemah 20 poin atau 0,12% ke level Rp16.190 per pada pukul 09.08 WIB. Sebelumnya, spot mampu menutup akhir pekan (27/3) lalu dengan kenaikan sebesar 135 poin atau 0,83% di posisi Rp16.170 per .

Walau bergerak negatif, namun sejumlah ekonom memprediksi bahwa mata uang domestik masih berpeluang menguat imbas pengesahan undang-undang paket stimulus AS senilai 2 triliun dolar AS untuk meredam dampak . Rupiah akan mengalami kenaikan karena pasokan greenback di pasaran otomatis bertambah.

“Indeks dolar AS cenderung melemah saat bank sentral lain juga kompak mengeluarkan stimulus,” tutur ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dilansir Kontan. “Rupiah terangkat karena asing kembali ke dan obligasi dalam negeri. Namun, bertambahnya pasien Covid-19 di beberapa negara masih berpotensi menekan rupiah.”

Sementara itu, menurut analisis CNBC Indonesia, rupiah berpotensi bergerak lebih tinggi karena tanda-tanda apresiasi sudah tampak di pasar Non-Deliverable Market (NDF). NDF sendiri adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Pasar NDF seringkali memengaruhi psikologis pembentukan di pasar spot. Karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Sedikit berbeda, pengamat ekonomi senior dari Center of Reform on Economics (Core), Piter Abdullah, mengatakan bahwa rupiah masih berpotensi mengalami pelemahan. Pasalnya, penguatan rupiah yang terjadi dalam beberapa transaksi terakhir dipicu aksi borong saham yang terlalu murah oleh investor asing, Karena itu, ia berpandangan bahwa sentimen negatif masih sangat kuat.

“Jadi, sentimen negatif masah sangat kuat. Ada potensi pekan ini mereka yang sudah membeli saham, akan melepas kembali saham mereka untuk merealisasikan keuntungan,” papar Piter, dikutip dari Medcom. “Sebab, risiko global masih sangat besar. Jadi, kalau hal itu terjadi, rupiah bisa kembali bergerak lebih rendah.”

Loading...