Senin Pagi, Rupiah Berbalik Menguat Saat Covid-19 Menyerang

Rupiah menguatRupiah menguat pada perdagangan Senin (26/4) pagi - www.beritasatu.com

JAKARTA – Rupiah mencoba bangkit pada Senin (26/4) pagi ketika lonjakan kasus -19 kembali melanda beberapa di dunia. Menurut Bloomberg Index pada pukul 09.04 WIB, Garuda terpantau menguat 30 poin atau 0,21% ke level Rp14.495 per dolar AS. Sebelumnya, spot sempat ditutup terdepresiasi tipis 5 poin atau 0,03% di posisi Rp14.525 per dolar AS pada Jumat (23/4) kemarin.

“Adanya gelombang baru Covid-19 di berbagai belahan dunia akan berpengaruh terhadap rupiah terhadap dolar AS, karena di China sendiri ditemukan cluster baru,” ujar Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dikutip dari Bisnis. “Apalagi dalam beberapa hari terakhir, terjadi lonjakan kasus infeksi di India, sedangkan di dalam negeri muncul kembali infeksi Covid-19 di cluster perkantoran.”

Hampir senada, ekonom Josua Pardede menuturkan bahwa pergerakan nilai tukar mata uang Garuda serta sebagian mata uang Asia lainnya dipengaruhi tren kenaikan kasus Covid-19 di beberapa negara berkembang, seperti India dan Thailand. Kenaikan kasus Covid-19 ini menurutnya akan mengurangi dampak pelemahan dolar AS dan turunnya obligasi dalam sepekan lalu.

“Sementara dari rilis data ekonomi, pelaku pasar akan mencermati beberapa data ekonomi AS seperti durable goods order pada hari ini, rapat The Federal Open Market Committee (FOMC) bulan April, dan data produk domestik bruto atau PDB AS pada kuartal I/2021,” papar Josua. “Dari dalam negeri, permintaan valas pada akhir bulan serta jadwal pembayaran dividen beberapa perusahaan multinasional berpotensi membatasi penguatan rupiah.”

Yang juga pesimistis rupiah mampu menguat adalah Head of Economics Research Pefindo, Fikri C. Permana, karena kenaikan jumlah kasus Covid-19 di India dan Australia yang kembali memberlakukan lockdown membuat khawatir. Ini menurutnya akan membuat dolar AS akan menguat dan berpengaruh pada pergerakan rupiah.

Sementara itu, analis HFX International Berjangka, Ady Phangestu, menilai sentimen pajak penghasilan bagi orang kaya di AS sebagai sumber dana untuk menutupi stimulus pemerintah AS, dan akan berpengaruh pada pergerakan dolar AS. Rencana tersebut akan mengakibatkan penurunan AS dan bitcoin, yang efeknya bisa mengangkat pamor .

Loading...